OPINI – Seusai subuh, ketika langit masih separuh biru dan separuh emas, saya membuka Surah Yusuf ayat 1-12. Ada ketenangan yang berbeda ketika kisah itu dibaca dalam suasana hening. Allah menyebutnya sebagai Ahsanal Qashash, kisah terbaik. Bukan karena ia tanpa luka, melainkan karena ia penuh hikmah strategis dan pendidikan karakter.
“Tilka āyātul-kitābil-mubīn… Naḥnu naquṣṣu ‘alaika aḥsanal-qaṣaṣ…” “Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas… Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik…” (Yusuf: 1-3)
Sejak awal, kita diajak memahami bahwa ini bukan sekadar narasi sejarah, tetapi kurikulum kepemimpinan. Kisah ini dimulai bukan di istana, bukan di pusat kekuasaan, melainkan di ruang keluarga di antara kecemburuan dan kasih sayang.
Seorang anak kecil, Yusuf, datang kepada ayahnya dengan mimpi yang tidak biasa.
“Yā abati innī ra’aytu aḥada ‘ashara kaukaban wasy-syamsa wal-qamara ra’aytuhum lī sājidīn.” “Wahai ayahku, aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf: 4)
Baca Juga: Di Ujung Surah Hud: Ketika Istiqamah Menjadi Nafas Peradaban
Mimpi itu bukan ambisi duniawi. Itu adalah visi ilahiyah. Namun setiap visi besar hampir selalu disertai ujian besar. Di sinilah peran ayah menjadi krusial. Yaqub tidak menertawakan mimpi itu, tidak pula membesar-besarkannya. Ia menasihati dengan bijak:
“Lā taqṣuṣ ru’yāka ‘alā ikhwatika fa-yakīdū laka kaidā…” “Jangan kamu ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat tipu daya terhadapmu.” (Yusuf: 5)
Di sini kita belajar tentang manajemen informasi dan kebijaksanaan sosial. Tidak semua mimpi harus diumumkan. Tidak semua rencana perlu dipublikasikan. Dalam dunia yang serba terbuka, kita sering tergesa-gesa membagikan visi sebelum ia matang. Padahal, sebagian mimpi perlu disimpan dalam ruang sunyi hingga waktunya tiba.
Ayat 8 membuka sisi gelap relasi manusia:
“Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita…”
Di sinilah muncul kecemburuan sosial. Mereka merasa tidak dianggap, padahal cinta seorang ayah tidak pernah berkurang. Konflik lahir bukan karena fakta, tetapi karena persepsi yang keliru dan ketidakamanan batin.
Kecemburuan itu berubah menjadi rencana: menyingkirkan Yusuf. Bahkan muncul gagasan membunuhnya. Namun satu suara masih menyisakan nurani: jangan dibunuh, cukup masukkan ke dalam sumur (Yusuf: 10). Dalam setiap kelompok yang tersesat, selalu ada secercah kesadaran.
Kisah ini terasa sangat relevan dengan kehidupan modern. Di tengah kompetisi akademik, politik, maupun profesional, keunggulan seseorang kerap memicu resistensi. Bukan karena ia salah, tetapi karena ia berbeda. Tidak jarang, tekanan terbesar justru datang dari lingkar terdekat.
Lebih menarik lagi, saudara-saudara Yusuf membungkus niat buruk dengan kata-kata manis:
“Biarkan dia bermain dan bersenang-senang…” (Yusuf: 12)
Di sinilah kita belajar tentang manipulasi naratif. Niat yang kelam sering disamarkan dalam bahasa yang terdengar rasional. Dunia hari ini pun tak jauh berbeda. Banyak keputusan yang tampak baik di permukaan, tetapi menyimpan agenda tersembunyi.
Surah Yusuf ayat 1-12 sesungguhnya sedang membangun fondasi ketahanan mental. Yusuf belum menjadi pejabat Mesir. Ia belum menyelamatkan negeri dari krisis. Ia masih anak kecil dengan mimpi besar. Namun justru pada fase inilah Allah sedang menyiapkan dirinya melalui proses pembentukan karakter.
Kita sering ingin hasil tanpa proses. Kita ingin keberhasilan tanpa pengasingan. Padahal, dari sumur gelap itulah kelak lahir cahaya kepemimpinan.
Pelajaran penting dari ayat-ayat ini jelas. Pertama, visi harus dijaga dengan bijak. Kedua, kecemburuan adalah ujian relasi yang harus dikelola dengan kedewasaan. Ketiga, ujian dari orang terdekat bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari skenario pembentukan.
Seusai Subuh, ketika cahaya perlahan memenuhi ruang, saya menyadari satu hal: perjalanan besar selalu dimulai dari ruang kecil yang sunyi. Dari mimpi yang belum dimengerti banyak orang. Dari kesabaran yang tidak disorot publik.
Baca Juga: Di Antara Gelombang dan Harapan Refleksi Subuh Ramadan 1447 H dari Surah Hud 43 hingga 72
Surah Yusuf mengajarkan bahwa Allah tidak pernah salah memilih siapa yang akan diangkat-Nya. Tetapi sebelum diangkat, seseorang harus melalui proses penyaringan yang tidak mudah.
Maka, jika hari ini kita sedang berada di sumur kehidupan—dalam fase yang tidak dipahami orang lain, barangkali itu bukan akhir. Bisa jadi itu adalah awal dari kepemimpinan yang lebih matang.
Karena setiap mimpi yang lahir dari keikhlasan, bila dijaga dengan kebijaksanaan, pada waktunya akan menemukan takdirnya.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
















