Selain alasan kesehatan, langkah ini juga dipicu oleh kebijakan pajak gula (sugar tax) yang telah diterapkan Thailand secara bertahap sejak 2017.
Para produsen minuman kini berlomba melakukan reformulation atau mengubah formula produk mereka agar tetap diminati namun terhindar dari tarif pajak yang lebih tinggi.
Bagi seorang perempuan, asupan gula berlebih tidak hanya memicu obesitas, tetapi juga berdampak pada kesehatan kulit dan risiko karies gigi yang tinggi.
Dengan adanya kampanye “kemanisan 50 persen” ini, masyarakat diharapkan terbiasa dengan rasa yang lebih tawar namun tetap segar.
Kini, banyak kafe di Thailand yang secara terang-terangan menampilkan pilihan tingkat kemanisan mulai dari 0%, 25%, hingga 100% (yang sudah dipangkas setengahnya).
Langkah Awal Menuju Gaya Hidup Sehat
Inisiatif ini membuktikan bahwa intervensi pemerintah dalam gaya hidup masyarakat bisa menjadi solusi efektif untuk menekan risiko penyakit tidak menular.
Membatasi konsumsi minuman manis bukan berarti berhenti menikmati boba atau teh favorit, melainkan belajar untuk lebih bijak dalam menentukan kadar gula yang masuk ke dalam tubuh demi investasi kesehatan jangka panjang.
Baca Juga: Golden Tulip Wedding Showcase 2026: Bukti Intimate Wedding Bisa Tampil Glamour dan Mewah
(Mira)
















