-
Minggu, 1 Maret 2026: Panitia mengawali rangkaian kegiatan dengan menggelar ritual Bukamata Naga. Usai menyelesaikan ritual suci tersebut, peserta membawa replika naga berkeliling kota untuk menyapa masyarakat.
-
Senin, 2 Maret 2026: Panitia menyelenggarakan Pawai Naga keliling kota. Memasuki siang hari, tepatnya pada pukul 14.00 WIB, para Tatung atau Loya melaksanakan prosesi cuci jalan.
-
Selasa, 3 Maret 2026 (Hari Puncak): Pada pukul 07.30 WIB, panitia menggelar ritual adat sekaligus menampilkan atraksi Tatung, Loya, serta Naga di kawasan Tugu Tolak Bala. Setelah atraksi memukau tersebut, rombongan melanjutkan pawai mengelilingi wilayah Ketapang. Pada malam harinya, mulai pukul 19.30 WIB, panitia menyajikan lanjutan acara hiburan bagi warga hingga selesai.
Menjunjung Toleransi di Tengah Bulan Suci Ramadan
Perayaan Cap Go Meh tahun ini memiliki nuansa yang berbeda karena bertepatan dengan momentum ibadah puasa bulan suci Ramadan. Merespons hal tersebut, Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kabupaten Ketapang menyesuaikan konsep acara guna menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah.
Baca Juga: Polres Ketapang Amankan Pelaku Balap Liar di Ketapang Saat Ramadan
Panitia mengambil langkah penyesuaian strategis, seperti membatasi jumlah peserta atraksi dan mempersingkat rute pawai. Tahun ini, panitia menerjunkan sekitar 10 replika naga dan melibatkan sekitar 40 tatung untuk memeriahkan suasana.
Untuk menjamin kelancaran acara, MABT Ketapang bersama panitia penyelenggara berkoordinasi secara aktif dengan Kepolisian Resor (Polres) Ketapang.
Baca Juga:
Aparat kepolisian menyiapkan skema rekayasa lalu lintas dan pengamanan ketat selama rangkaian kegiatan berlangsung, terutama pada titik-titik keramaian seperti Kelenteng Tua Pekkong dan Tugu Tolak Bala.
Kehadiran warga lintas agama dan etnis yang membaur menyaksikan perayaan ini setiap tahunnya selalu membuktikan kuatnya semangat toleransi serta kerukunan hidup bermasyarakat di Kabupaten Ketapang.
(*Sr)











