Melalui pesan WhatsApp, ia menjelaskan bahwa rapat musyawarah telah digelar pada Kamis, (5/2/2026), di Cafe Safira.
“Untuk keluhan warga sekitar terkait adanya suara live music kafe sudah kami ambil langkah-langkah melalui rapat musyawarah warga sekitar,” tulis Manto.
Dari hasil musyawarah itu, pihak kafe menyanggupi live music dimulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB dengan volume tidak terlalu keras.
Pertimbangan tersebut diambil karena sebagian besar warga sekitar sudah berusia lanjut.
Selain itu, pengelola juga diminta mengarahkan kendaraan pengunjung agar tidak menggunakan halaman warga.
“Parkir kendaraan pengunjung agar tidak menggunakan halaman warga sekitar kafe dan supaya menempati lahan parkir yang telah disediakan kafe CW Space,” ujarnya.
Khusus selama bulan suci Ramadan, lanjut Manto, pihak kafe menyatakan siap tidak mengadakan live music.
Adapun soal limbah, Manto menyebut hingga kini belum ada laporan resmi yang masuk ke pihak RT maupun manajemen kafe.
“Namun hal ini akan kami sampaikan ke pihak manajemen kafe untuk dicari solusi terbaik antara kedua belah pihak,” katanya.
Fakta Kalbar telah berupaya mengonfirmasi pihak manajemen kafe melalui nomor WhatsApp atas nama Baren pada Senin, (16/2/2026).
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.
Warga berharap persoalan dugaan limbah, kebisingan, dan parkir dapat segera ditangani agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
Mereka juga meminta pemerintah kota melakukan evaluasi terhadap pengawasan izin dan operasional usaha hiburan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Endus Penyelewengan Anggaran, Tim Pidsus Kejati Kalbar Obok-obok Dua Lokasi Vital di Ketapang
(Dhion)















