Di sinilah rakyat menemukan resep rahasia. Tidak perlu demo besar. Tidak perlu bakar ban. Cukup masak perlawanan seperti gudeg koyor, pelan, sabar, meresap. Tunda bayar. Biarkan kantor Samsat sepi seperti dapur tanpa pelanggan. Karena ketika loket kosong, grafik penerimaan turun, target bergetar. Diskon tiba-tiba muncul. Sosialisasi mendadak digencarkan. Panik itu terasa, walau tak diakui.
Ini bukan makar. Ini bukan anarki. Ini strategi kuliner, kalau rasa tidak cocok, jangan habiskan. Kalau harga tidak masuk akal, simpan uangnya. Rakyat Jateng sedang belajar, kekuatan ada di keputusan kecil yang dilakukan bersama-sama. Menunda adalah bahasa paling sopan untuk berkata, “Kami tidak setuju.”
Nuan bayangkan, jika sepinya Samsat menyebar seperti aroma lumpia goreng di Pasar Johar. Bayangkan jika kursi-kursi kosong itu menjadi metafora bahwa rakyat tak lagi mau jadi lauk pendamping dalam pesta anggaran. Ini bukan soal pelit bayar pajak. Ini soal keadilan rasa. Pajak boleh, tapi transparansi harus lebih gurih dari tahu gimbal, lebih jujur dari soto bangkong, lebih kokoh dari bandeng presto.
Untuk rakyat Jateng, lanjutkan dengan kepala dingin dan perhitungan matang. Karena kadang, revolusi paling kejam bukan yang berteriak paling keras, melainkan yang membuat dapur kekuasaan kehilangan selera.
Baca Juga: Dari Wakil Tuhan ke Tikus Got Gorong-gorong
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.










