Ini mahakarya kolaborasi antara kemarau dan birokrasi. Kemarau bikin sungai dangkal. Sungai dangkal bikin kapal berhenti. Kapal berhenti bikin stok menipis. Stok menipis bikin harga melonjak. Harga melonjak bikin spekulan panen. Di tengah semua itu, warga cuma bisa antre sambil berharap hujan turun lebih cepat dari janji distribusi normal kembali.
Kalau dalam seminggu hujan tak datang, antrean bisa makin panjang dari daftar tunggu CPNS. Harga bisa makin liar. Rp100.000 per liter? Jangan kaget.
Di negeri sungai dan hutan ini, BBM subsidi mendadak terasa seperti tiket konser eksklusif, siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia bertahan. Sisanya? Menonton dengan tangki kosong.
Selamat menikmati musim kemarau edisi dompet kering. Jangan lupa bawa jeriken, doa, dan kesabaran setebal kitab undang-undang. Karena di Kalimantan Barat 2026, bukan cuma sungai yang surut, logika dan keadilan distribusi ikut mengering pelan-pelan.
“Kawan nak ngajak ngopi di Sintang, gimanalah, Bang?”
“Tuk sementara kita tunda, wak. Sampai distribusi BBM normal kembali.” Ups
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















