OPINI – Daerah lain sering saya kincah. Daerah sendiri malah diabaikan. Maaf, ana lalai. Ternyata, di Kabupaten Melawi, Kalbar, terjadi kelangkaan BBM. Daerah saya ni, tapi jauh di hulu. Baru pertama terjadi harga eceran pertalite Rp50 ribu per liter. “Ayap ye,” kata orang Sambas. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Jelang puasa Ramadan malah terjadi Krisis BBM Kalimantan Barat 2026. Penyeabnya, sungai surut, dompet ikut sekarat. Ini bukan film dystopia, ini realita di tanah Borneo. Pertalite yang di SPBU resmi harganya Rp10.000 per liter mendadak naik kasta jadi barang premium tak kasatmata.
Baca Juga: Pasokan Terhambat, Lima Kabupaten di Kalbar Alami Kelangkaan BBM Akibat Pendangkalan Sungai Melawi
Di Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Sekadau, sampai Sanggau, warga dipaksa ikut kuis berhadiah penderitaan. Mau antre berjam-jam dengan kemungkinan zonk karena stok habis, atau beli dari pengecer dengan harga Rp50.000 per liter. Ya, lima puluh ribu. Itu bukan typo, bukan halu, bukan efek kurang tidur. Itu harga yang bikin dompet terdiam, lalu pelan-pelan mengucapkan takbir kesedihan.
Penyebabnya? Sungai Kapuas dan Melawi seperti lagi cuti panjang tanpa pemberitahuan. Debit air cuma 2,7 meter. Sementara kapal Pertamina kapasitas 4.500 kiloliter butuh kedalaman lebih layak. Hasilnya? Tertahan di Sanggau seperti anak kos yang saldo ATM-nya tak cukup buat bayar kontrakan.
Tiga kapal pengangkut BBM terjebak. Depot Sintang megap-megap. Lalu keluarlah kalimat sakral, “Sedang diatur ritase truk tangki dari Pontianak.” Ritase 24 jam, katanya. Kedengarannya heroik. Realitanya, warga tetap antre satu jam lebih, motor mogok di tengah jalan, sopir taksi memilih parkir permanen, petani dan nelayan menatap mesin penggiling dan perahu seperti menatap mantan: masih butuh, tapi tak bisa dipakai.
Di Sintang, antrean mengular seperti naga lapar. SPBU tutup mendadak karena Pertalite dan Pertamax habis seketika. Padahal sehari sebelumnya stok masih ada. Tiba-tiba lenyap. Simsalabim distribusi. Aneh? Tentu saja.
Tapi aneh di negeri ini sudah jadi rutinitas. Di Melawi, muncul plang legendaris yang pantas masuk museum satire, “Yang ada uang silakan beli, yang gak ada uang antre aja di SPBU.” Ini bukan sekadar tulisan, ini tamparan filosofis.
Harga eceran dari Rp15.000–20.000 di Nanga Pinoh naik jadi Rp25.000–30.000 di desa-desa, lalu tembus Rp40.000–50.000 di pengecer ekstrem. Spekulan tersenyum manis, rakyat mengelus dada sambil menghitung sisa saldo.
Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, sampai menegur Pertamina dalam rapat TPID, minta distribusi darurat dan investigasi. Di Kapuas Hulu, Putussibau memang tak sepanjang Sintang antreannya, tapi stok tetap terbatas.
Baca Juga: Diduga Sopir Mengantuk, Kecelakaan Tunggal Truk Tangki BBM di Sanggau Nyaris Hantam Rumah Warga
Harga eceran Rp14.000–20.000. Pemerintah daerah diminta awasi penimbunan. Kadin Melawi kirim surat terbuka ke Presiden Prabowo, Menteri ESDM, dan Pertamina, memohon pemulihan pasokan seadil-adilnya. DPRD Kalbar ikut mendesak langkah darurat. Semua bergerak, semua rapat, semua bersuara. Tapi sungai tetap 2,7 meter. Kapal tetap tak bisa lewat. BBM tetap langka.
















