Transformasi Hari Valentine: Dari Ritual Kuno Menuju Simbol Kasih Sayang Global

"Simak perjalanan panjang Hari Valentine yang bertransformasi dari ritual kuno Lupercalia menjadi momen kasih sayang yang diperingati secara global."
Simak perjalanan panjang Hari Valentine yang bertransformasi dari ritual kuno Lupercalia menjadi momen kasih sayang yang diperingati secara global. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLEHari Valentine yang kita kenal sekarang sangat jauh berbeda dengan akarnya yang penuh kekerasan dan tragedi.

Bagaimana mungkin sebuah perayaan yang bermula dari ritual kuno yang keras dan eksekusi mati bisa bertransformasi menjadi hari paling romantis di dunia?

Perjalanan panjang ini melibatkan pergeseran nilai budaya, pengaruh sastra, hingga komersialisasi massal yang akhirnya mengaburkan sejarah kelam masa lalu.

Berikut adalah lini masa bagaimana Valentine akhirnya diperingati sebagai hari kasih sayang:

Baca Juga: 6 Hal Kelam dan Sejarah Hari Valentine: Dari Ritual Berdarah Hingga Komersialisasi

1. Upaya Rebranding oleh Gereja

Pada akhir abad ke-5, Paus Gelasius I mengambil langkah besar untuk menghapus jejak ritual pagan Lupercalia yang brutal.

Gereja kemudian menetapkan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine untuk menghormati martir Kristen yang dieksekusi.

Meskipun motif awalnya bersifat religius, langkah ini menjadi fondasi awal untuk mengubah atmosfer perayaan dari ritual kekerasan menjadi peringatan yang lebih tenang.

2. Pengaruh Sastra Abad Pertengahan

Era “Cinta Kesatria” atau courtly love pada abad ke-14 menjadi titik balik utama.

Sastrawan Inggris, Geoffrey Chaucer, dalam karyanya The Parliament of Fowls, menghubungkan Hari Valentine dengan momen burung-burung mencari pasangan.

Puisi ini sangat berpengaruh di kalangan bangsawan Eropa, yang kemudian mulai berkirim surat cinta dan puisi romantis tepat pada tanggal 14 Februari.

3. Tradisi Surat Cinta yang Melembaga