Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap sisi kelam perebutan kekuasaan di Sudan yang telah menelan korban jiwa dalam skala masif.
Sedikitnya 6.000 orang dilaporkan tewas hanya dalam kurun waktu tiga hari saat pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota el-Fasher.
Kesaksian para penyintas menggambarkan situasi di lapangan layaknya adegan film horor.
Pembantaian massal, eksekusi tanpa pengadilan (extrajudicial execution), penyiksaan, hingga kekerasan seksual dilaporkan terjadi secara sistematis.
Baca Juga: Dekatkan Layanan ke Warga, Samsat Gokatan dan Go PBB Hadir Keliling Kecamatan di Pontianak
Berdasarkan data PBB, sekitar 4.400 orang tewas di dalam kota, sementara 1.600 lainnya dibantai saat mencoba melarikan diri melalui jalur keluar.
Konflik yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun antara tentara reguler dan RSF ini telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.
Lebih dari 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan ratusan ribu nyawa melayang akibat perang saudara yang kian brutal.
Di wilayah Darfur Barat, RSF bahkan dituduh melakukan tindakan genocide terhadap komunitas non-Arab.
















