Salah satunya adalah Shota Saka, koki berbintang Michelin yang membawa kreasi hidangan fusion ke tanah air.
Di Tokyo, ia terkenal dengan racikan kaldu berbasis babi, namun untuk pasar Indonesia, ia memodifikasinya menjadi salmon noodle yang sepenuhnya halal.
3. Popularitas Ramen yang Tak Terbendung
Ramen tetap menjadi primadona utama. Di Jepang, setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri, seperti:
- Sapporo: Berbasis miso.
- Tokyo: Berbasis shoyu (kecap asin).
- Kochi: Berbasis kuah ikan.
Kini, variasi tersebut mulai bermunculan di Indonesia, menawarkan pengalaman rasa yang otentik namun tetap ramah di kantong masyarakat.
4. Adaptasi Bahan Baku Lokal
Penggunaan bahan seperti ikan salmon yang sangat dicintai masyarakat Indonesia menjadi kunci sukses hidangan fusion.
Dengan menggabungkan teknik memasak tradisional Jepang dan bahan baku yang populer di sini, restoran Jepang berhasil menciptakan keterikatan emosional dengan konsumen lokal.
Pesatnya pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masakan Jepang bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban di Indonesia.
Dengan target ekspansi ke luar Jakarta, pengalaman mencicipi ramen atau sushi otentik akan semakin mudah dijangkau oleh lebih banyak orang.
Baca Juga: Perkuat Hubungan Bilateral, Menhan Sjafrie Terima Kunjungan Pimpinan JMSDF Jepang
(Mira)
















