Faktakalbar.id, BENER MERIAH – Proses pemulihan bagi ratusan warga terdampak banjir dan longsor (bansor) di Kabupaten Bener Meriah kini berkejaran dengan waktu.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan 914 unit hunian sementara (huntara) harus rampung pada pertengahan Februari 2026, guna mengejar kenyamanan warga sebelum memasuki bulan Ramadan.
Kepala BNPB, Suharyanto, saat meninjau lokasi di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, Jumat (13/2/2026), menegaskan bahwa pemenuhan tempat tinggal yang layak bagi korban rumah rusak berat tidak bisa ditunda lebih lama.
Dari total warga terdampak, sebanyak 914 Kepala Keluarga (KK) seluruhnya memilih skema huntara daripada menumpang di rumah kerabat atau menerima Dana Tunggu Hunian (DTH).
Baca Juga: Warga Korban Banjir Lhokseumawe Terima Dana Tunggu Hunian, Huntara Capai 80 Persen
“Untuk di Bener Meriah, terdapat 914 KK dengan kategori rumah rusak berat. Seluruhnya memilih untuk dibangunkan hunian sementara,” ujar Suharyanto.
Namun, target ini membebankan tekanan besar pada pihak pengembang (vendor). Di Kampung Wonosobo misalnya, pembangunan ditargetkan selesai pada 17 Februari 2026.
Artinya, petugas di lapangan hanya memiliki waktu lima hari tersisa untuk merampungkan unit-unit tersebut.
Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan aspek sosial dan psikologis pengungsi.
Tinggal di tenda darurat atau menumpang di rumah warga lain dalam jangka panjang dinilai rentan menimbulkan konflik horizontal dan ketidaknyamanan.
Meski huntara dirancang lebih kokoh dengan fasilitas kamar mandi pribadi, hunian ini tetaplah bersifat transisi.
















