Berdasarkan hasil audiensi dengan pihak panitia, terdapat rencana pelibatan kelompok perempuan atau ibu-ibu untuk mengawal peserta pawai guna meminimalkan gesekan antar-remaja.
“Yang membedakan pawai obor berdasarkan audiensi dengan panitia adalah keterlibatan emak-emak sebagai ras terkuat di dunia, dalam mengantisipasi terjadinya perkelahian, kenakalan remaja, dan sebagainya,” ungkap Endang Tri Purwanto.
Strategi ini diterapkan karena sebagian besar peserta pawai diperkirakan berasal dari kalangan anak muda.
Polisi menilai kehadiran sosok ibu di tengah barisan dapat memberikan pengaruh psikologis yang lebih meredam potensi konflik.
Berkaca pada Insiden Maut Tahun Sebelumnya
Pengamanan ketat ini diberlakukan bukan tanpa alasan.
Pihak kepolisian memberikan perhatian khusus pada kategori peserta dari generasi muda yang dinilai masih memiliki emosi labil.
“Mengingat nanti kemungkinan pawai obor diikuti oleh banyak anak-anak muda, yang merupakan generation set yang masih mencari jati diri,” jelasnya.
Endang Tri Purwanto menegaskan bahwa catatan kelam pada tahun sebelumnya menjadi alarm bagi aparat keamanan untuk tidak lengah dalam mengawal pergerakan massa di jalan raya.
“Di situ kita berkaca pengalaman tahun sebelumnya sampai mengakibatkan korban jiwa, tentunya ini menjadi tantangan bagi kami dari Kepolisian Resort Kota Pontianak untuk mengamankan kegiatan tersebut,” pungkasnya.
Baca Juga: Jamin Kondusivitas, Polda Kalbar Minta Masyarakat Tak Terpengaruh Hoaks Jelang Imlek
(Mira)
















