“Program kita ingin jadi program pelebaran jalan. Karena jalan ini sudah padat banget,” jelasnya.
Kendati memiliki target infrastruktur yang jelas, Sujiwo tetap mengedepankan pendekatan humanis.
Ia memberikan ruang toleransi bagi warga yang menggantungkan hidupnya di lokasi tersebut, mengingat aspek ekonomi masyarakat kecil (“urusan perut”) harus tetap dijaga.
“Tapi ya sudah kita berikan kesempatan, toleransi dulu. Karena ini menyangkut urusan perut, mungkin untuk keluarga dan lain sebagainya. Kita berikan kesempatan supaya nanti mereka menabung,” tuturnya.
Sujiwo berharap masa transisi ini dimanfaatkan warga untuk bersiap jika kelak penataan total atau pelebaran jalan dilakukan sepenuhnya.
Prinsip utamanya adalah kawasan tersebut tidak boleh terlihat kumuh dan semrawut, meskipun pemerintah belum menggunakan lahan tersebut untuk kepentingan pelebaran jalan dalam waktu dekat.
(FR)
















