“Perang semakin menjadi perang drone, tetapi ini tidak berarti bahwa cara peperangan lain telah kehilangan relevansinya,” bunyi laporan tersebut.
Diprediksi pada tahun 2025, sekitar seperempat hingga sepertiga kerugian di medan perang masih akan disebabkan oleh tembakan artileri dan mortir.
Baca Juga: Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 Ukraina Menggunakan S-300
Temuan paling mencolok dalam dokumen tersebut adalah daftar mesin industri yang diinstalasi berasal dari pabrikan Eropa dan Asia yang seharusnya membatasi ekspor ke Rusia.
Peralatan tersebut mencakup mesin dari KAFO dan Glory (Taiwan), TACCHI dan PARPAS (Italia), DMG MORI, LIEBHERR, dan HERMLE AG (Jerman), serta JONES & SHIPMAN (Inggris).
Mesin-mesin ini krusial untuk pemesinan presisi dan pembentukan roda gigi dalam produksi senjata.
Analisis menyimpulkan bahwa ekspansi semacam itu “tidak mungkin dilakukan tanpa akses ke mesin dan teknologi asal Barat.”
Padahal, sanksi telah dijatuhkan oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, dan negara mitra lainnya sejak lama.
Selain alat berat, data produksi amunisi Rusia juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, pengiriman peluru mortir 120 mm diproyeksikan naik 37,3 persen menjadi 1,961 juta butir.
Sementara pesanan peluru artileri 152 mm meningkat 10,2 persen menjadi 1,717 juta butir.
Hal ini mengindikasikan upaya Rusia untuk memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan mutlak pada pasokan dari sekutunya seperti Iran atau Korea Utara.
(FR)
















