Masalah ‘Jantung’ Pesawat, Performa Jet Tempur J-35 China Diragukan Ahli

Jet tempur siluman J-35 Angkatan Laut China sedang bersiap lepas landas dengan panduan kru dek di atas kapal induk Fujian. (Dok. Ist)
Jet tempur siluman J-35 Angkatan Laut China sedang bersiap lepas landas dengan panduan kru dek di atas kapal induk Fujian. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Pesawat tempur siluman J-35 milik China yang ditempatkan di atas kapal induk terbaru, Fujian (Type 003), dilaporkan menghadapi pembatasan operasional serius.

Baca Juga: Coba Melarikan Diri, Tersangka Tambang Emas Asal China Diciduk di Perbatasan Entikong

Berdasarkan laporan surat kabar Korea Selatan, Chosun Ilbo, kendala ini dipicu oleh masalah kinerja mesin yang terus berlanjut pada armada tempur generasi terbaru tersebut, Kamis (12/2/2026).

Keraguan terhadap kemampuan J-35 mencuat setelah stasiun televisi pemerintah China, CCTV, menayangkan rekaman operasi lepas landas dan pendaratan pesawat tersebut awal tahun ini.

Tayangan yang semula bertujuan mempromosikan kecanggihan kapal induk Fujian justru memicu kritik dari komentator militer domestik.

Mereka menyoroti penggunaan mesin turbofan lawas yang dianggap sebagai titik lemah atau “penyakit jantung” bagi alutsista China.

Haixian Xianfeng, seorang komentator militer yang fokus pada isu angkatan laut, memberikan analisis tajam terkait performa mesin tersebut di portal Tengxunwang.

“Menurut perkiraan para ahli domestik, pesawat tempur J-35 hanya dapat beroperasi selama tujuh menit pada jarak 900 km dari kapal induk,” tulis Haixian.

Pernyataan ini mengindikasikan keterbatasan fatal pada daya tahan dan durasi terbang untuk misi jarak jauh.

Pengamat militer sebelumnya memprediksi J-35 akan ditenagai oleh mesin WS-19 yang lebih modern dan telah dikembangkan sejak 2017.

Baca Juga: China Resmikan Kapal Induk Fujian, ‘Supercarrier’ Pertama dengan Ketapel Elektromagnetik

Namun, visual yang beredar memperlihatkan pesawat tersebut masih menggunakan mesin WS-21 yang lebih tua.

Performa mesin menjadi faktor krusial bagi pesawat berbasis kapal induk yang membutuhkan daya dorong besar untuk lepas landas dari landasan pendek, meskipun telah dibantu sistem peluncuran elektromagnetik canggih milik Fujian.

Masalah propulsi ini tetap menjadi tantangan besar bagi sektor pertahanan China, meskipun pemerintah setempat telah menginvestasikan lebih dari $40 miliar melalui Aviation Engine Corporation of China (AECC) antara tahun 2010 hingga 2020.

Padahal, J-35 diproyeksikan untuk menyediakan pertahanan udara armada dan kemampuan serangan strategis.

Keterbatasan ini dikhawatirkan akan menghambat operasi berkelanjutan Angkatan Laut China di perairan lepas.

(FR)