Karantina Kalbar Perkuat Biosekuriti PLBN Entikong, Gencar Sosialisasi Virus Nipah

Petugas Karantina Kalbar memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pelintas batas pengendara mobil di PLBN Entikong terkait bahaya virus Nipah dan PPR. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Petugas Karantina Kalbar memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pelintas batas pengendara mobil di PLBN Entikong terkait bahaya virus Nipah dan PPR. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, SANGGAUKarantina Kalimantan Barat melalui Satuan Pelayanan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong mengambil langkah strategis dalam memperkuat benteng biosekuriti negara.

Baca Juga: Terdakwa WNA China Kasus Pencurian 774 Kg Emas di Ketapang Kabur ke Entikong

Upaya ini diwujudkan dengan mengintensifkan sosialisasi kewaspadaan terhadap ancaman Virus Nipah dan Peste des Petits Ruminants (PPR) di seluruh lini kawasan perbatasan, Senin (09/2/2026).

Kegiatan edukasi ini dilakukan secara menyeluruh dan menyasar titik-titik krusial, mulai dari area kargo, jalur keberangkatan, hingga jalur kedatangan pelintas.

Fokus utamanya adalah meningkatkan pemahaman para pelaku usaha jasa logistik, pengemudi angkutan, serta masyarakat pelintas batas mengenai bahaya kedua penyakit tersebut.

Petugas karantina terjun langsung ke lapangan untuk memberikan penjelasan mengenai karakteristik penyakit, media pembawa yang berisiko, serta potensi penularannya melalui hewan maupun produk turunannya.

Langkah ini diambil mengingat Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis dengan tingkat fatalitas tinggi yang dapat menular ke manusia, sementara PPR adalah penyakit menular strategis yang menyerang ternak ruminansia kecil seperti kambing dan domba, yang berdampak serius pada ketahanan pangan.

Penanggung Jawab Karantina Kalimantan Barat Satuan Pelayanan PLBN Entikong, Swiet Sinay, menegaskan bahwa sosialisasi ini merupakan langkah preventif yang tidak bisa ditawar demi menjaga keamanan wilayah.

“PLBN Entikong merupakan pintu masuk strategis. Oleh karena itu, seluruh jalur—baik kargo, keberangkatan, maupun kedatangan—harus menjadi perhatian utama. Sosialisasi ini penting agar pelintas memahami risiko Virus Nipah dan PPR serta tidak membawa media pembawa yang berpotensi membahayakan kesehatan hewan dan masyarakat,” tegas Swiet.

Baca Juga: Matangkan Program Kerja, Perbakin Kota Pontianak Gelar Pertemuan Perdana Pengurus Baru

Lebih lanjut, Swiet menambahkan bahwa keterlibatan aktif pelintas dan pemangku kepentingan sangat menentukan keberhasilan pencegahan masuknya penyakit dari luar negeri.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas pengawasan fisik, tetapi juga edukasi persuasif.