Faktakalbar.id, PONTIANAK – Lembaga pengembangan industri konstruksi Malaysia, Construction Industry Development Board (CIDB), melakukan kunjungan resmi ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Barat serta Kantor Gubernur Kalbar pada Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Jejak Tim Airlangga dalam Pemutusan Kontrak Sepihak di Dinas PUPR Kalbar
Kunjungan ini bertujuan untuk menjajaki kerja sama strategis dalam peningkatan kompetensi dan sertifikasi tenaga kerja konstruksi Indonesia.
Delegasi yang dipimpin oleh Ts. PMr. Br. Muhammad Rizuan Bin Hamzah (GM CPDD CIDB Malaysia) dan Abdul Rahman Bin Ahmad (CEO Akademi Binaan Malaysia) mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari kolaborasi dengan Politeknik Negeri Pontianak.
Fokus utamanya adalah membuka program pelatihan tenaga kerja konstruksi bersertifikat yang diakui secara profesional di kedua negara.
Beberapa poin penting dalam penjajakan kerja sama ini meliputi:
-
Pemenuhan Kebutuhan Global: Pesatnya pembangunan infrastruktur di Malaysia, terutama di Sarawak dan Kuching, memicu tingginya kebutuhan akan tenaga kerja konstruksi yang terampil dan bersertifikat.
-
Pemanfaatan Fasilitas Daerah: Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang SDM, Ir. Yosafat Triadhi Anjioe, mengusulkan pemanfaatan Balai Latihan Kerja (BLK) di kawasan perbatasan sebagai pusat pelatihan bersama dengan standar yang disepakati bersama.
-
Agenda Sosek Malindo: Mengingat posisi strategis Kalimantan Barat, kerja sama ini layak diusulkan menjadi agenda resmi dalam forum kerja sama sosial ekonomi Malaysia–Indonesia (Sosek Malindo).
-
Standardisasi Sertifikat: Penyelarasan standar pelatihan sangat krusial agar sertifikat kompetensi yang diterbitkan dapat diakui dan digunakan dalam kegiatan jasa konstruksi lintas negara secara sah.
Baca Juga: Awal Februari 2026, Malaysia Kembali Deportasi Puluhan PMI Bermasalah Lewat PLBN Entikong
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Forum Masyarakat Jasa Konstruksi (FORMAJAKON) Kalbar serta perwakilan asosiasi konsultan seperti GAPENSI, INKINDO, dan PERKINDO.
Program ini dipandang berpotensi menjadi proyek percontohan (pilot project) dalam mencetak tenaga kerja konstruksi dengan pengakuan internasional.
Sekretaris Umum Formajakon, Tirto Admojo, menilai kunjungan ini sebagai penanda awal terbukanya peluang kolaborasi yang lebih luas di kawasan regional.
















