- Contohnya: Mengatur keuangan keluarga, menjadi pengasuh utama bagi adik-adiknya, atau mengurus urusan administratif rumah tangga yang rumit.
- Meskipun membantu orang tua adalah hal baik, pola asuh ini menjadi berbahaya ketika peran tersebut menjadi beban utama anak sehingga mengabaikan kebutuhan mereka untuk belajar, bermain, dan bersosialisasi.
3. Ketidakmampuan Orang Tua dalam Mengelola Inner Child
Beberapa orang tua yang memiliki luka masa lalu atau inner child yang belum selesai cenderung mencari pengasuhan dari anak mereka sendiri.
Mereka mungkin bersikap manja, sering merajuk, atau menunjukkan ketidakberdayaan agar anak memberikan perhatian ekstra.
Secara psikologis, individu dalam pola asuh ini sering merasa tidak berdaya tanpa campur tangan anaknya.
Akibatnya, anak merasa bersalah jika mereka mencoba mandiri atau mengejar kepentingan pribadinya.
4. Batasan yang Kabur (Enmeshment)
Pola asuh yang memicu parentification biasanya tidak memiliki batasan (boundaries) yang jelas.
Orang tua tidak melihat anak sebagai individu yang memiliki privasi atau kebutuhan yang berbeda.
Anak diharapkan untuk selalu ada, selalu mengerti, dan selalu siap sedia membantu.
Ketidakmampuan orang tua untuk menetapkan batasan ini membuat anak merasa bahwa nilai diri mereka hanya ditentukan oleh seberapa besar bantuan yang bisa mereka berikan kepada keluarga.
5. Pemberian Kritik atau Pujian yang Bersyarat
Orang tua dengan pola asuh ini sering kali memberikan validasi hanya saat anak berhasil membantu beban keluarga.
Jika anak gagal melakukan peran “dewasa” tersebut, orang tua mungkin menunjukkan kekecewaan yang mendalam atau kemarahan.
Hal ini membentuk mekanisme koping (coping mechanism) pada anak untuk terus menjadi “penyelamat” (rescuer) demi mendapatkan rasa aman dan kasih sayang di dalam rumah.
Fenomena parentification sering kali merupakan hasil dari intergenerational trauma atau trauma antargenerasi.
Orang tua yang melakukannya mungkin dahulu juga mengalami hal yang sama.
Langkah awal untuk memutus pola ini adalah dengan menyadari bahwa tugas utama seorang anak adalah tumbuh dan berkembang, bukan memikul beban hidup orang dewasa yang melampaui usianya.
Baca Juga: Dilema Pemutus Rantai: 5 Beban Mental Saat Berusaha Keluar dari Lingkaran Kemiskinan Keluarga
(Mira)
















