3. Tenun Corak Insang Pontianak
Kota Pontianak memiliki kain khas bernama Corak Insang yang awalnya digunakan oleh kaum bangsawan di lingkungan Kesultanan Kadriyah. Motif ini melambangkan napas kehidupan dan sejarah masyarakat yang menetap di sepanjang tepian Sungai Kapuas.
Saat ini, Corak Insang mengalami perkembangan pesat dan diaplikasikan ke berbagai produk fesyen modern seperti kemeja, tas, hingga sepatu untuk kebutuhan sehari hari.
4. Tenun Ikat Sanggau dengan Warna Berani
Kabupaten Sanggau juga memiliki corak tenun ikat yang tidak kalah menarik dengan paduan warna yang lebih berani dan cerah. Motif motif pada tenun Sanggau banyak menggambarkan harmoni antara manusia dengan lingkungan perbukitan dan sungai.
Kain ini sering menjadi pilihan bagi kolektor wastra karena memiliki karakter jahitan yang kuat dan pola geometris yang sangat rapi.
5. Tenun Cual dari Kepulauan dan Pesisir
Selain Sambas, wilayah pesisir Kalimantan Barat juga mengenal kain cual yang memiliki pengaruh dari kebudayaan Melayu Kepulauan. Kain cual memadukan teknik tenun ikat dengan teknik tambahan benang emas yang memberikan kesan elegan. Motif bunga dan hewan laut sering menghiasi kain ini, mencerminkan kekayaan maritim yang dimiliki oleh wilayah pesisir Kalimantan Barat.
Baca Juga: 6 Keunikan Budaya Melayu Kalimantan Barat, Warisan Leluhur yang Memikat Dunia
Cara Merawat Kain Tenun Tradisional
Anda harus memperlakukan kain tenun dengan cara yang berbeda dari kain pabrikan agar warna dan seratnya tidak rusak. Jangan pernah mencuci kain tenun menggunakan mesin cuci atau detergen keras. Anda cukup merendamnya sebentar dengan sabun khusus (lerak) dan menjemurnya di tempat yang teduh tanpa terkena sinar matahari secara langsung.
Mengenal dan mengenakan kain tenun khas daerah merupakan bentuk nyata dukungan kita terhadap para perajin lokal. Keindahan wastra Kalimantan Barat ini membuktikan bahwa karya tradisional mampu bersaing di panggung mode internasional.
(*Sr)











