Opini  

Mengapa Iran Menjadi Negara Syiah?

Ilustrasi - Simak sejarah berdarah mengapa Iran berubah menjadi negara Syiah. Dari mayoritas Sunni hingga revolusi Dinasti Safavid, jelang laga Timnas Futsal vs Iran. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Simak sejarah berdarah mengapa Iran berubah menjadi negara Syiah. Dari mayoritas Sunni hingga revolusi Dinasti Safavid, jelang laga Timnas Futsal vs Iran. (Dok. Ist)

Menolak? Eksekusi. Di Tabriz, sekitar 20.000 Sunni dibantai. Di Isfahan 1503, 5.000 dibakar hidup-hidup. Masjid Sunni diruntuhkan, makam tokoh Sunni dihancurkan.

Pasukan Kizilbash bertopi merah menyapu kota demi kota seperti Shiraz, Yazd, Baghdad (1508). Ulama Sunni diusir atau dibunuh. Karena ulama Syiah lokal minim, Safavid impor ulama dari Jabal Amil (Lebanon) dan Irak—al-Muhaqqiq al-Karaki diberi kekuasaan besar, Husayn ibn Abd al-Samad disponsori negara. Syiah dijadikan kurikulum nasional.

Di bawah Tahmasp I (1524–1576), ritual Muharram dimasifkan, propaganda dilembagakan, silsilah keluarga dipoles nyambung ke Imam Ali al-Rida. Shah Abbas I (1588–1629) membakukan hukum Syiah lewat Jame-e Abbasi.

Soltan Hoseyn dan Mohammad-Baqer Majlesi mengunci ortodoksi Twelver. Ada satu episode tragikomedi, Ismail II (1576–1577) coba balik ke Sunni, hentikan kutukan. Hasilnya? Diracun. Tamat.

Baca Juga: Hasil Final Piala Asia Futsal 2026: Drama 8 Gol, Indonesia vs Iran Berlanjut ke Babak Tambahan Usai Skor Imbang 4-4

Butuh hampir tiga abad sampai Iran jadi mayoritas Syiah. Dari sekitar 40% ke 90% pada pertengahan abad ke-17.

Biayanya mahal. Perang panjang dengan Ottoman (misalnya Chaldiran 1514), konversi paksa non-Muslim (30.000 Georgia 1614–1616), dan akhirnya Safavid runtuh 1722. Tapi Syiah bertahan, bahkan mengeras.

Hari ini Iran 90–95% Syiah Twelver. Revolusi 1979 di bawah Khomeini mengubah Syiah dari korban sejarah (sejak Karbala 680) jadi kekuatan global lewat velayat-e faqih. Iran bukan cuma pindah mazhab, mereka menciptakan identitas baru. Dari objek sejarah jadi subjeknya.

Singkatnya begitu. Jangan tanya, apa referensinya. Karena ini bukan jurnal. Cukup percaya pada penulisnya, dijamin no hoax. “Tak mungkinlah saya ngarang bebas.”

Nah, malam ini sepertinya giliran Timnas yang akan mengukir sejarah baru. Iran boleh Syiah, tapi negeri ini tetap Nusantara.

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.