OPINI – Saya lanjutkan penangkapan tikus got gorong-gorong oleh KPK. Tujuannya, agar kalian jijik, muntah, dan ingin melundahi wajahnya. Walau demikian, tetap seruput koptagul agar otak tetap encer dan waras, wak!
Di negeri ini, hakim sering disebut wakil Tuhan. Katanya lidahnya adalah ayat, palunya wahyu, dan putusannya doa yang turun ke bumi. Ia duduk tinggi, bersih, berjubah hitam, seolah tak tersentuh lumpur dunia.
Maka ketika nama I Wayan Eka Mariarta disebut, lengkap dengan S.H., M.Hum., lahir Pasuruan 13 Maret 1973, status menikah aman, pangkat Pembina Utama Muda IV/c—kita disuruh percaya, inilah manusia setengah malaikat.
Baca Juga: Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor 1,2 Miliar
Wakil Tuhan itu katanya hidup dari cahaya ilmu. Sarjana Hukum Universitas Merdeka Pasuruan, 1997. Magister Hukum Universitas Merdeka Malang, 2010. Dua kitab hukum telah ia khatamkan.
Di atas kertas, ia imam keadilan. Di dinding kantor, fotonya seperti ikon suci. Tenang, berwibawa, tak berkeringat. Palunya jatuh pelan, suaranya lebih dipercaya dari jerit orang kecil.
Kariernya pun menyerupai ziarah panjang. Dari staf PN Pasuruan sejak 1 Maret 1993, lalu berkeliling sebagai hakim di Lamongan, Singaraja, Kendari. Naik jadi Wakil Ketua di Sambas dan Tabanan. Dimahkotai Ketua di Sumbawa Besar dan Bondowoso.
Kembali sebagai hakim di Denpasar. Tahun 2024, Wakil Ketua PN Malang. Puncaknya, 22 Mei 2025, duduk sebagai Ketua PN Depok Kelas IA. Tiga puluh tahun lebih, wak. Medali XX Tahun 2017 dan XXX Tahun 2023 disematkan, seperti stempel surga, “Ia setia.”
Harta pun katanya bersih. LHKPN sekitar Rp 949 juta. Tanah di Gianyar, mobil, tabungan ratusan juta. Wakil Tuhan harus tampak sederhana, katanya. Tidak rakus. Tidak licik, Tidak berbau got gorong-gorong.
Tapi di sinilah metamorfosis menjijikkan itu dimulai.
Pelan-pelan, wakil Tuhan itu turun dari mimbar. Ia merangkak ke lorong lembap. Jubah hitamnya berubah bulu kusam. Palu suci diganti gigi pengerat. Ia bukan lagi berdiri di cahaya, tapi menyelinap di gorong-gorong.
Pada 5 Februari 2026, tikus itu tertangkap KPK. Mulutnya penuh remah, perutnya buncit. Tas ransel hitam berisi Rp 850 juta, bagian dari fee Rp 1 miliar, dipeluk erat di lapangan golf Emeralda.
















