Business to Business (B2B)
Model ini melibatkan transaksi antarperusahaan, seperti penyedia perangkat lunak atau pemasok bahan baku ke pabrik. Pengusaha B2B harus membangun relasi jangka panjang dan menunjukkan nilai efisiensi investasi (Return on Investment) kepada klien.
Penentuan harga pada model ini biasanya berbasis nilai yang ditawarkan (value-based), bukan sekadar perang harga murah. Fokus utama pelaku usaha terletak pada kontrak kerja sama untuk menjaga stabilitas arus kas dari klien tetap.
Business to Consumer (B2C)
Pelaku usaha menjual produk langsung kepada konsumen akhir, contohnya restoran, toko ritel, atau e-commerce. Strategi pemasaran utama menyasar sisi emosional dan gaya hidup pembeli agar merasa terhubung dengan brand.
Penjual kerap menggunakan promo musiman, paket bundling, atau edisi terbatas untuk memicu pembelian impulsif. Pemilik bisnis harus rajin menguji harga pasar karena konsumen di sektor ini sangat sensitif terhadap diskon dan tren.
Business to Government (B2G)
Model ini melayani instansi pemerintah melalui tender atau pengadaan barang dan jasa, seperti kontraktor atau penyedia alat kesehatan. Pemenang tender biasanya bukan yang paling viral, melainkan yang memiliki proposal kuat dan rekam jejak terpercaya.
Kelengkapan dokumen legalitas seperti NPWP, NIB, dan SIUP menjadi penentu utama kelolosan proyek. Harga yang ditawarkan biasanya tinggi (high-ticket) namun harus tetap transparan dan sesuai regulasi.
Consumer to Consumer (C2C)
Transaksi terjadi antarindividu melalui perantara platform marketplace atau situs jual beli. Penjual di model ini sangat bergantung pada visibilitas di platform dan ulasan (review) dari pembeli sebelumnya.
Reputasi toko yang baik akan membangun kepercayaan konsumen. Strategi harga harus kompetitif mengikuti pasar, namun penjual bisa menaikkan harga jika produk tersebut langka atau memiliki keunikan tersendiri.
Direct to Consumer (D2C)
Sebuah jenama (brand) menjual produk langsung ke pembeli tanpa perantara distributor, biasanya melalui situs web resmi sendiri. Pemilik jenama wajib memahami data pelanggan secara mendalam untuk menciptakan penawaran yang personal.
Meskipun harga jual bisa lebih tinggi karena memotong rantai distribusi, model ini menuntut kesadaran merek (brand awareness) yang sangat kuat dari konsumen.
Baca Juga: Mau Cuan dari Lemari? Ini 5 Tips Memulai Bisnis Sewa Kebaya bagi Pemula Agar Anti-Rugi
Consumer to Business (C2B)
Individu menawarkan jasa atau nilai kepada perusahaan, seperti yang dilakukan oleh influencer, pekerja lepas (freelancer), atau kreator konten. Pelaku C2B harus membangun citra diri (personal branding) yang kuat dan memperbanyak portofolio.
Penentuan tarif sebaiknya berbasis hasil atau proyek, bukan hitungan jam kerja, demi menjaga kualitas dan posisi tawar profesional.
(*Sr)










