Opini  

Kurang Bedebah Apa Lagi Negeri Ini, Wakil Tuhan pun Ditangkap

KPK tangkap Wakil Ketua PN Depok. Ironi "Wakil Tuhan" yang terjerat suap di tengah pesta kemenangan Timnas Futsal. (Dok. Ist)
KPK tangkap Wakil Ketua PN Depok. Ironi "Wakil Tuhan" yang terjerat suap di tengah pesta kemenangan Timnas Futsal. (Dok. Ist)

OPINI – Kalian boleh marah kali ini. Koptagul tumpah, biarkan. Ini sudah sangat parah. Wakil Tuhan alias hakim digelandang KPK ketahuan disuap 850 juta. Kurang bedebah apa lagi negeri ini saya, negeri ente, dan negeri kita, wak! Bukan Konoha.

Pian bayangkan seekor tikus got raksasa, tubuhnya licin oleh lumpur selokan, kumisnya basah air comberan, matanya kecil tapi rakus, hidup nyaman di gorong-gorong kota yang gelap, pengap, dan penuh bangkai moral.

Tikus ini bukan sembarang tikus. Ia mengenakan toga hitam sebagai kamuflase, berbicara tentang keadilan dengan mulut yang bau bangkai, dan mengetukkan palu hukum seperti tikus mengetuk pipa, bukan untuk memperbaiki, tapi mencari celah kebocoran uang.

Baca Juga: Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor 1,2 Miliar

Nama tikus itu, Dr. Bambang Setyawan, S.H., M.H. Wakil Ketua Pengadilan Negeri Depok. Di siang hari, ia tampil sebagai makhluk terhormat.

Penuh gelar, penuh jabatan, penuh ceramah etika. Tapi begitu malam turun dan gorong-gorong dibuka, naluri aslinya bangkit. Tikus memang begitu, makannya diam-diam, larinya cepat, dan rakusnya tak pernah kenyang.

Tikus got tidak peduli kota banjir atau rakyat kelaparan. Anak SD bundir di Ngada NTT. Ia tak ada 375 ribu guru honorer yang digaji 400 ribu per bulan. Ia tak hirau 7,35 juta pengangguran. Selama ada sisa, bangkai, dan uang basah, ia akan menggigit.

Benar saja, 5 Februari 2026, KPK menyergap sarang tikus itu. Dari balik lipatan toga dan dinding kekuasaan, menggelinding Rp 850 juta. Uang yang baunya sama seperti got, amis, busuk, dan menular.

Tikus itu tertangkap basah, moncongnya masih belepotan suap, ekornya menggeliat panik, tapi sudah terlambat. Lampu sorot menyala. Gorong-gorong terbuka. Semua orang melihat, ini bukan dewa hukum, ini hama negara.