Yang paling lucu sekaligus inspiratif, Koptagul membuktikan, pengaruh tidak selalu datang dari teori berat atau istilah asing berbahasa Inggris. Kadang ia lahir dari candaan, dari kopi tanpa gula, dari komentar jujur seorang Umar di Bukittinggi.
Dunia boleh ribut soal influence, engagement, dan algoritma. Tapi Koptagul memilih jalan sunyi, pahit, konsisten, dan jujur.
Maka kalau hari ini orang bicara tentang Koptagul seperti ia sebuah aliran, saya hanya bisa senyum. Ini bukan soal saya.
Ini soal bagaimana sebuah kata bisa hidup, berjalan, dan bekerja di alam bawah sadar publik. Seperti kopi pahit yang tak semua orang suka, tapi sekali cocok, susah pindah ke yang lain.
Baca Juga: Paket Kopi Isi Sabu Gagal Terbang dari Supadio, Kakek 57 Tahun Diciduk Polisi
Siap, wak. Ini pesan moralnya ringkas tapi nancep, pahit tapi bikin melek:
Hidup tak selalu butuh gula. Kadang justru kepahitan yang bikin kita terjaga, berpikir, dan waras di tengah dunia yang hobi memaniskan kebohongan.
Koptagul mengajarkan satu hal penting. Jangan takut pada rasa pahit, karena di sanalah kejujuran tinggal. Yang terlalu manis sering cuma tipu-tipu, yang pahit justru apa adanya.
Maka seruputlah hidup seperti kopi tanpa gula. Tak semua enak di lidah, tapi jujur di rasa. Orang yang berani pahit, biasanya lebih lama diingat.
Silakan seruput pelan-pelan. Kalau dahi mulai berkerut, berarti Koptagul bekerja. Seruput Koptagulnya, wak!
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















