Opini  

Semakin Ramai Bicarakan Koptagul

Ilustrasi - Mengapa orang ramai membicarakan Koptagul? Simak kisah di balik istilah Kopi Tanpa Gula yang kini menjelma jadi gaya hidup dan simbol kejujuran nan elegan. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Mengapa orang ramai membicarakan Koptagul? Simak kisah di balik istilah Kopi Tanpa Gula yang kini menjelma jadi gaya hidup dan simbol kejujuran nan elegan. (Dok. Ist)

OPINI – Koptagul memang tak bisa dipisahkan dari saya. Ia sudah seperti bayangan. Ke mana tulisan pergi, di situ Koptagul nongkrong. Kadang saya merasa bukan lagi menulis artikel, tapi menuangkan kopi ke dalam paragraf.

Aneh tapi nyata, setiap tulisan selalu ada kata Koptagul. Bahkan netizen pun ikut-ikutan. Ada yang komentar panjang lebar, ada yang cuma nyengir, lalu ditutup dengan salam sakral, salam Koptagul. Bukan salam olahraga, bukan salam literasi, tapi salam pahit nan elegan.

Padahal awalnya sederhana. Sesederhana kopi tanpa gula. Saya ini memang orang yang tak percaya manis-manis berlebihan. Dalam hidup, dalam politik, apalagi dalam narasi.

Maka saya sering bilang, seruput kopi tanpa gula. Sampai suatu hari, seorang netizen bernama Umar, asal Bukittinggi, daerah yang hawanya dingin tapi otaknya hangat, berkomentar cerdas.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Minum Kopi Bikin Darah Tinggi Melonjak?

Katanya, “Bang, singkat saja jadi Koptagul. Biar ada rasa Turkinya.”

Saya baca, saya ketawa, saya angguk. Deal. Dari situ, lahirlah satu diksi yang tak pernah masuk KBBI tapi sukses masuk kepala orang.

Sejak saat itu, Koptagul bukan lagi sekadar singkatan. Ia naik pangkat jadi gaya hidup. Ia menjelma jadi bumbu wajib untuk narasi yang bikin dahi mengeryit, mata menyipit, dan hati berkata, “Lah kok gini?”

Koptagul hadir setiap kali kenyataan terlalu pahit untuk ditelan mentah-mentah. Ia jadi jembatan antara fakta yang kejam dan humor yang menyelamatkan kewarasan.

Sekarang, orang ramai membicarakan Koptagul. Seolah-olah ia influencer. Padahal tak pernah buka endorsement, tak punya akun resmi, dan tak butuh centang biru.

Tapi pengaruhnya jalan. Diam-diam. Licin. Di kolom komentar, di obrolan warung kopi, di status yang sengaja atau tak sengaja meniru gaya.

Inilah fenomena paling berbahaya dalam dunia tulis-menulis, ketika sebuah kata berubah jadi identitas.

Secara edukatif, ini menarik. Dalam ilmu komunikasi, kata yang terus diulang dengan konteks kuat akan membangun asosiasi mental. Dalam sosiologi, simbol yang dipakai bersama akan melahirkan rasa kebersamaan.

Dalam psikologi, pahit justru lebih diingat dari manis. Koptagul bekerja di semua lini itu, tanpa pernah mengaku-ngaku. Ia lahir dari obrolan netizen, tumbuh di narasi, lalu dewasa di kepala pembaca.