Keadilan untuk yang setor fee, kebenaran versi restitusi kilat, dan perjuangan melawan… saldo kas negara. Wayang di panggung cuma kayu, tapi di kantor pajak, wayangnya hidup, menggerakkan uang rakyat ke saku pribadi.
Di tengah ironi ini, DJP sebenarnya punya maskot resmi. Namanya Kojib, singkatan dari Kontribusi Wajib. Bentuknya lebah lucu, simbol kerja keras mengumpulkan “madu” pajak untuk sarang bernama negara.
Filosofinya manis. Edukasinya niat. Sayangnya, di dunia nyata, madu itu bocor sebelum masuk sarang. Lebah-lebah jujur capek terbang, sementara tawon-tawon berkemeja rapi datang belakangan, menjilat madu, lalu ceramah soal integritas. Kalau Kojib punya perasaan, mungkin dia sudah pensiun dini.
Sekarang bayangkan posisi wajib pajak. Gaji dipotong. Kendaraan ditagih. Properti dikejar. Telat sedikit, denda. Salah isi, diperiksa. Sementara yang jaga gerbang pajak malah main sulap miliaran.
Negara rugi, infrastruktur setengah jadi, bansos tersendat. Koruptor ini parasit super, hisap darah negara sambil tampil sebagai pahlawan budaya.
Kalau ada penghargaan “Koruptor Paling Multitalenta 2026,” Ki Mulyono hampir pasti juara umum, main wayang, main pajak, main duit rakyat.
Malam ini, ironi makin lengkap. Timnas Indonesia akan menghadapi Jepang di semifinal futsal AFC.
Di lapangan, anak-anak muda berlari habis-habisan, keringat bercucuran, membawa Merah Putih dengan jujur. Di tribun, rakyat teriak nasionalisme. Di rumah, pajak tetap dibayar.
Sementara di gedung KPP, nasionalisme versi lain dipraktikkan. Main belakang, main cepat, main fee.
Baca Juga: Nama Jokowi Terseret Kasus Korupsi Kuota Haji, Yaqut Sebut Kuota Diterima Langsung
Timnas perlu tenaga dan strategi buat satu gol. Pegawai pajak cukup tanda tangan buat miliaran. Bedanya, kalau Timnas kalah, rakyat sedih. Kalau pajak dikorupsi, rakyat muak.
Kalau tren 2026 ini berlanjut, mungkin KPK memang perlu buka kantor cabang permanen di setiap KPP. Atau sekalian ganti nama instansi, Direktorat Jenderal Pajak dan Fee Tambahan.
Biar transparan dari awal. Karena hari ini OTT bukan lagi kejutan, tapi agenda rutin. Episode ini selesai, besok lanjut episode baru.
Satu pesan saja untuk wajib pajak, lebah kartun disuruh kerja jujur, tapi yang kenyang justru dalang manusia. Selama itu terus terjadi, jangan heran kalau kepercayaan publik makin habis, lebih cepat dari restitusi yang dipercepat.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.















