Opini  

DOJ Buka Neraka File Epstein, Dark Web Siang Bolong, dan Kepengecutan Elit Dunia

DOJ resmi buka 'neraka' File Epstein. Ribuan dokumen dan video elit global terungkap tanpa sensor. Simak analisis tajam dunia nyata vs dark web di sini. (Dok: DOJ)
DOJ resmi buka 'neraka' File Epstein. Ribuan dokumen dan video elit global terungkap tanpa sensor. Simak analisis tajam dunia nyata vs dark web di sini. (Dok: DOJ)

Ini level konten yang biasanya hanya muncul di forum CSAM dark web, bedanya, ini dilepas oleh pemerintah Amerika Serikat.

Kedua, redaksi kacau dan bolong-bolong. Banyak halaman direduksi tanpa pola jelas, jutaan halaman lain masih ditahan dengan alasan privilege dan privacy. DOJ bahkan mengakui ada klaim sensasional, gambar dan video palsu.

Mirip kebocoran dark web. Setengah benar, setengah disaring, setengah lagi hilang entah ke mana.

Ketiga, hidupnya file ini di dunia bawah internet. Dokumen di-rip, diunggah ke torrent, magnet link beredar di forum data hoarder.

Ada klaim versi unredacted, ada pula temuan absurd, seperti product key Windows 7 Epstein yang terlihat di foto laptopnya, bisa dipakai aktivasi bajakan. Resmi, tapi liar. Terang, tapi hidup di grey area.

Sementara itu, efeknya beda benua. Di Eropa, satu file bisa merobohkan karier. Peter Mandelson di Inggris mundur. Miroslav Lajčák di Slovakia pamit. Putri Mette-Marit Norwegia mengaku menyesal pernah menyebut Epstein “sweetheart”.

Swedia kehilangan pejabat UNHCR-nya. Inggris masih dihantui bayang-bayang Pangeran Andrew. Di sana, rasa malu masih punya daya ledak.

Amerika Serikat? Kabut tebal. DOJ bilang tak ada bukti baru untuk tuntutan pidana. Bill Gates menyangkal.

Elon Musk menyangkal. Donald Trump menyangkal sambil mengklaim kemenangan. Clintons menolak testify tapi menuntut semua file dibuka. Logika elit, transparansi untuk publik, pengecualian untuk kami.

Di tengah parade ini, mari menoleh sebentar ke Indonesia, negeri kita, wak. Bukan karena nama pejabat kita muncul di file Epstein, belum. Tapi andaikata suatu hari nanti ada nama besar republik ini terselip di sana, mari realistis.

Tak akan ada yang mundur. Budaya mundur belum tumbuh. Yang subur justru budaya tak tahu malu. Di Eropa, satu email bisa tamat. Di sini? Paling jadi meme, lalu besoknya potong pita lagi sambil pidato moral.

Akhirnya, inilah kesimpulan paling mengerikan. File Epstein bukan sekadar arsip. Ini cermin. Cermin dunia tanpa sensor, tanpa kebohongan, tanpa filter moral.

Baca Juga: Disdikbud Pontianak Beri Atensi Khusus Siswi SMP Korban Pemerkosaan, Hak Pendidikan Dijamin Hingga Lulus

Dunia di mana kekuasaan saling melindungi, korban diseret ulang, dan kebenaran dilepas bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk melelahkan.

So, kalau setelah membaca ini nuan merasa ngeri, mual, dan kehilangan sedikit iman pada kemanusiaan, itu tanda pian masih waras.

Karena di dunia Epstein, yang paling menakutkan bukan konspirasi…melainkan fakta bahwa inilah dunia nyata sesungguhnya.

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.