“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” ujar Rosan dalam keterangannya.
Lonjakan Nilai Tambah dan Penghematan Devisa
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, memaparkan data kalkulasi ekonomi dari proyek hilirisasi di Mempawah ini.
Ia menyebutkan bahwa pengolahan bauksit menjadi produk akhir aluminium mampu mendongkrak nilai tambah komoditas hingga 70 kali lipat.
Sebagai perbandingan, harga bauksit mentah di pasaran berada di kisaran US$40 per metrik ton.
Nilai ini naik menjadi US$400 per metrik ton saat diolah menjadi alumina, dan melonjak tajam hingga kisaran US$2.800 – US$3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium batangan.
Selain peningkatan nilai komoditas, operasional smelter ini diproyeksikan berdampak signifikan terhadap cadangan devisa negara melalui pengurangan impor aluminium. MIND ID memperkirakan cadangan devisa dapat naik sebesar 394 persen, dari semula Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun setelah fasilitas beroperasi penuh.
“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara pada sektor mineral,” tegas Maroef.
Peresmian ini turut dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat, Anggota Komisi XII DPR RI, Bupati Mempawah, Raja Mempawah XIV, serta jajaran direksi BUMN terkait.
Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor bahan baku bagi sektor industri manufaktur domestik.
Baca Juga: Kantin Sekolah Methodist Mempawah Dibobol Maling, Pelaku Terekam CCTV Tutupi Wajah dengan Sarung
















