“Hospital-based itu tidak perlu bayar, karena ini bukan kuliah. Bagi rakyat yang tidak mampu, asalkan dia komit mau menjadi dokter spesialis, bisa menjadi dokter spesialis,” tambahnya.
Budi menargetkan program ini dapat segera bergulir pada pertengahan tahun ini di Pontianak, dimulai dengan satu atau dua program spesialisasi prioritas.
“Saya harap di bulan Juni ini bisa segera mulai di Pontianak untuk mulai hospital-based. Sehingga seluruh putra-putri Kalimantan Barat lebih mudah menjadi dokter spesialis,” ucapnya.
Peningkatan Kompetensi: Dokter Umum Bisa Intervensi Jantung
Selain program pendidikan, Menkes juga menyoroti strategi jangka pendek untuk mengatasi kekosongan layanan akibat kurangnya dokter subspesialis, seperti onkologi (kanker) atau jantung intervensi.
Kemenkes akan melakukan pelatihan peningkatan kompetensi (upskilling) bagi dokter spesialis penyakit dalam dan bedah agar bisa melakukan tindakan medis tertentu yang krusial.
“Misalnya untuk pasang ring kalau dia ada sakit jantung, itu dokternya (penyakit dalam) kita latih agar mereka bisa melakukan intervensi. Kemudian untuk kraniotomi (bedah tempurung kepala), kita harapkan spesialis bedah bisa kita latih,” jelas Budi.
Strategi ini dilakukan agar akses layanan kesehatan bagi masyarakat, seperti kemoterapi dan penanganan stroke, bisa lebih dekat dan cepat tanpa harus menunggu ketersediaan dokter subspesialis yang langka.
“Sehingga lebih mudah lagi akses ke masyarakat, dan bisa menurunkan angka kematian,” pungkasnya.
Baca Juga: Tiba di Kubu Raya, Menteri Kesehatan RI Tinjau RSUD TBSI Bersama Gubernur Ria Norsan
(Mira)
















