FKDM Kalbar Soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya, Desak Evaluasi Pola Pendidikan

FKDM Kalbar soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya.
FKDM Kalbar soroti Insiden Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

“Pada usia remaja awal, emosi anak masih sangat labil. Jika tekanan di rumah, lingkungan pergaulan, atau di sekolah tidak tersalurkan dengan baik, maka bisa muncul perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia mendorong sekolah untuk merevitalisasi peran guru Bimbingan dan Konseling (BK). Sekolah harus mampu membangun sistem deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa sebelum masalah memuncak menjadi tindakan destruktif.

“Pendekatan represif saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pendampingan psikologis, komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua, serta ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan masalahnya,” tambahnya.

FKDM Kalbar berharap Insiden Bom Molotov ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh.

Kurikulum sekolah diharapkan semakin memperkuat pendidikan karakter dan literasi emosi agar siswa mampu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Baca Juga: Tekanan Mental Akibat Masalah Keluarga Diduga Jadi Pemicu Siswa Melakukan Aksi Pelemparan Bom Molotov

Terkait proses hukum, aparat kepolisian saat ini masih mendalami motif pelaku dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak.

Sementara itu, satu korban luka akibat peristiwa tersebut dilaporkan dalam kondisi stabil dan telah dipulangkan ke rumah usai mendapat perawatan medis.

(*Red)