6 Keunikan Budaya Melayu Kalimantan Barat, Warisan Leluhur yang Memikat Dunia

"Kenali 6 keunikan budaya Melayu Kalimantan Barat yang mempesona. Mulai dari tradisi Saprahan yang penuh makna, Kain Corak Insang, hingga dentuman Meriam Karbit yang legendaris."
Kenali 6 keunikan budaya Melayu Kalimantan Barat yang mempesona. Mulai dari tradisi Saprahan yang penuh makna, Kain Corak Insang, hingga dentuman Meriam Karbit yang legendaris. (Dok. Ist)

3. Dialek yang Khas dan Cepat

Salah satu hal yang paling mudah dikenali dari masyarakat Melayu Kalimantan Barat adalah logat atau dialek bicaranya.

Bahasa Melayu di sini (khususnya Pontianak dan Sambas) memiliki ritme yang cenderung cepat, lugas, dan dinamis.

Penggunaan akhiran “E” (seperti pada kata “Sate”) yang kental, serta kosakata unik seperti “balak” (masalah), “lawar” (menggoda/bercanda), atau “kempunan” (mitos terkena sial karena menolak tawaran makan/minum), menjadikan interaksi sosial di sini terasa sangat hangat dan jenaka.

Bahasa ini menjadi jembatan komunikasi yang akrab di pasar-pasar tradisional hingga kedai kopi.

4. Festival Meriam Karbit

Ini adalah tradisi yang mungkin hanya bisa ditemukan secara masif di tepian Sungai Kapuas, Pontianak.

Meriam Karbit adalah permainan rakyat berupa meriam kayu raksasa yang dibunyikan untuk menyambut malam Idul Fitri.

Awalnya, tradisi ini berkaitan dengan legenda pendirian Kota Pontianak untuk menghalau gangguan suara gaib.

Namun kini, Meriam Karbit telah bertransformasi menjadi festival budaya yang menyedot perhatian wisatawan.

Dentuman menggelegar di sepanjang sungai terpanjang di Indonesia ini menjadi simbol sukacita dan kekompakan warga pesisir.

5. Tradisi Robok-Robok

Masyarakat Melayu di pesisir, khususnya di Kabupaten Mempawah, memiliki tradisi unik bernama Robok-Robok.

Ritual ini digelar pada hari Rabu terakhir di bulan Safar (kalender Hijriah).

Masyarakat akan berkumpul di pinggir sungai atau laut untuk memanjatkan doa tolak bala (menolak bahaya) dan keselamatan, lalu dilanjutkan dengan makan bersama di alam terbuka.

Tradisi ini menunjukkan hubungan yang erat antara masyarakat Melayu dengan alam, khususnya air, sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

6. Seni Berbalas Pantun yang Mendarah Daging

Bagi masyarakat Melayu Kalbar, pantun bukan sekadar sastra lama, melainkan seni komunikasi yang masih hidup.

Dalam prosesi adat pernikahan (seperti acara Palang Pintu atau Antar Barang), berbalas pantun menjadi atraksi wajib yang menghibur.

Pantun-pantun yang dilontarkan seringkali berisi nasihat bijak yang dibalut dengan humor segar.

Kemampuan merangkai kata secara spontan ini menunjukkan kecerdasan linguistik dan kehalusan budi bahasa yang dijunjung tinggi dalam adat Melayu.

Baca Juga: Padukan Cita Rasa Padang-Melayu, Pusaka Minang & Garagara Coffee Siapkan Sensasi Makan di Hutan Tropis

(Mira)