Sahabat di Akuarium, Musuh di Sungai: Fakta Ilmiah Ikan Sapu-sapu Sebagai Hama

"Sering dianggap bermanfaat, benarkah ikan sapu-sapu adalah hama berbahaya? Simak fakta ilmiah tentang dampak invasifnya bagi ekosistem sungai di sini."
Sering dianggap bermanfaat, benarkah ikan sapu-sapu adalah hama berbahaya? Simak fakta ilmiah tentang dampak invasifnya bagi ekosistem sungai di sini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi para penghobi ikan hias, ikan sapu-sapu sering dianggap sebagai “petugas kebersihan” yang berjasa membersihkan lumut di dinding kaca akuarium.

Namun, reputasi ini berbanding terbalik ketika ikan tersebut berada di perairan umum.

Di balik ketangguhannya bertahan hidup, ikan sapu-sapu ternyata menyimpan potensi kerusakan besar bagi ekosistem alami.

Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa secara ilmiah, ikan ini dikategorikan sebagai hama berbahaya bagi lingkungan perairan Indonesia.

Baca Juga: Jangan Abaikan! Inilah 5 Tanda Fungsi Otak Mulai Menurun yang Sering Dianggap Sepele

Berikut adalah fakta-fakta ilmiah mengapa ikan sapu-sapu disebut sebagai ancaman serius bagi sungai kita.

1. Status: Spesies Asing Invasif

Ikan sapu-sapu (suckermouth catfish) bukanlah fauna asli Indonesia.

Ikan yang termasuk dalam famili Loricariidae ini aslinya berasal dari perairan tropis Amerika Selatan (Sungai Amazon).

Karena bukan spesies asli, keberadaannya di sungai-sungai Indonesia dikategorikan sebagai Invasive Alien Species (IAS).

Tanpa adanya predator alami yang seimbang di perairan lokal, populasi mereka meledak tak terkendali dan mendominasi habitat.

2. Kompetisi yang Mematikan

Secara morfologi, ikan sapu-sapu memiliki kulit yang sangat keras dan bersisik tajam menyerupai perisai.

Hal ini membuat ikan predator lokal enggan memangsanya.

Akibatnya, terjadi kompetisi yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu memonopoli sumber makanan di dasar sungai.

Lebih parah lagi, sifat oportunisnya membuat mereka kerap memakan telur-telur ikan endemik lokal, yang menyebabkan populasi ikan asli Indonesia perlahan punah.