Di Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Makin besar, makin lamban. Seperti dinosaurus ekonomi. Besar, kuat, tapi kikuk menghadapi perubahan zaman.
Akar penyakitnya, menurut Bank Dunia, ada di institusi dan iklim bisnis. Lapangan main tidak rata, aturan sering berubah, birokrasi berlapis-lapis seperti kue lapis Sambas.
Akibatnya, sektor formal enggan tumbuh. Mayoritas tenaga kerja terdampar di sektor informal. Angkanya bikin melongo. Sekitar 83 persen pekerja Indonesia berada di wilayah abu-abu ekonomi. Negara besar, ekonomi G20, tapi urusan kerja masih mirip pasar kaget.
Efeknya merembet ke fiskal negara. Pajak jadi seret. Pendapatan negara menyusut. Defisit perlahan merayap mendekati angka sakral 3 persen.
Utang naik. Bunga utang makin rakus, sampai seperlima pendapatan negara habis hanya untuk membayar bunga. Ini bukan alarm kecil, ini sirene panjang. Ruang belanja produktif makin sempit, sementara tuntutan pembangunan makin berisik.
Namun, ironi paling lucu justru di akhir. Bank Dunia bilang, kalau reformasi struktural dijalankan serius, iklim usaha dibereskan, produktivitas dinaikkan, birokrasi dipangkas, pertumbuhan ekonomi negeri kekuasaan Prabowo bisa melonjak signifikan.
Bahkan, tambahan dua persen per tahun selama lima tahun. Artinya jelas, Indonesia bukan tak mampu maju, hanya terlalu sering setengah-setengah.
Baca Juga: TMMD ke-127 Fokus Bangun Infrastruktur Dasar dan Berdayakan Ekonomi Desa
Maka jadilah ini seperti ribut warkop global. Indonesia teriak optimisme, Bank Dunia membalas dengan grafik. Yang satu bicara sejarah dan keberanian, yang lain bicara GNI per kapita dan disiplin fiskal.
Percaya atau tidak, di antara dua dunia itulah Indonesia hari ini berdiri. Antara mimpi besar dan angka-angka dingin yang tidak bisa diajak berkompromi.
“Bang, kurang ajar tu Bank Dunia. Mestinya berikan optimisme pada presiden. Ini malah jujur. Bank Dunia tak melihat dari MBG saja sudah sektor sejuta tenaga kerja. Apalagi tambang.”
“Parah Bank Dunia, wak. Semoga saja pak presiden kita tak dibilang antek asing, wak” , ups.
Oleh: Rosadi Jamani. Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















