Opini  

Bank Dunia Ngajak Ribut, Masa’ Indonesia Dibilang Susah Jadi Negara Maju

Ilustrasi - Bank Dunia sebut Indonesia sulit jadi negara maju karena masalah produktivitas dan sektor informal. Kontras dengan semangat era Prabowo, data ekonomi justru jadi peringatan keras. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Bank Dunia sebut Indonesia sulit jadi negara maju karena masalah produktivitas dan sektor informal. Kontras dengan semangat era Prabowo, data ekonomi justru jadi peringatan keras. (Dok. Ist)

OPINI – Ente lagi kerja ni, lalu kawan lewat bilang, “Percume kerja keras. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Tak bakalan maju ente.” Pasti gedek dengarnya. Maunya manas. Kira-kira gambaran Bank Dunia pada negara kita tercinta ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia ini lagi panas-panasnya nasionalisme. Prabowo baru pegang kendali. Tempo malah bilang Prabowo itu ‘kaisar” yang sudah panaskan mesin negara.

Jargon semangat 45 dipompa, hilirisasi digas, MBG dijadikan doa harian, sawit dielus sambil dibisiki, “kamu tulang punggung bangsa.” Suasananya heroik, seperti film perang dengan musik latar orkestra.

Baca Juga: Kampus Siapkan Mahasiswa Kuasai Ekonomi Digital

Eh, di tengah adegan klimaks itu, Bank Dunia muncul dari balik layar sambil batuk kecil, “Maaf ya, Indonesia masih susah jadi negara maju.” Waduh. Ini bukan kritik, ini lemparan botol ke atas panggung.

World Bank tentu tidak bicara pakai rasa, apalagi pakai semangat. Mereka bicara pakai angka, tabel, dan istilah yang bikin kening berkerut. Dalam kamus mereka, negara maju itu bukan soal percaya diri, tapi soal status high-income country.

Syaratnya sederhana tapi kejam. Pendapatan nasional bruto per kapita harus tembus di atas USD 14.006 per tahun. Kurang satu dolar pun, maaf, belum lulus. Nasionalisme tidak bisa dicicil, kemajuan ekonomi tidak menerima pembayaran pakai optimisme.

Di titik inilah Bank Dunia seperti dosen killer yang bilang, “Kamu rajin, tapi belum pintar.” Indonesia memang tumbuh, tapi pertumbuhannya belum berkelanjutan.

Bank Dunia menekankan, untuk negara seperti Indonesia, pertumbuhan ideal itu harus konsisten di atas 6 persen per tahun, bukan sekadar numpang lewat karena harga komoditas lagi baik atau ekspor lagi hoki.

Ekonomi harus ditopang produktivitas dan inovasi, bukan cuma gali sumber daya, jual, lalu berharap pasar global selalu baik hati.

Masalahnya, kata Bank Dunia, mesin produktivitas Indonesia ini agak aneh. Perusahaan besar ada, bahkan banyak yang raksasa, tapi begitu besar dan tua, produktivitasnya malah turun. Secara teori ekonomi, perusahaan yang tumbuh harusnya makin efisien, makin canggih, makin kompetitif.