Ketika AD/ART dikesampingkan atau ditafsirkan berbeda-beda sesuai situasi, maka organisasi sedang berjalan tanpa kompas.
Bahaya terbesarnya bukan hanya polemik sesaat, melainkan preseden buruk. Hari ini bisa saja Kubu Raya, besok bisa daerah lain. Hari ini ditunda, besok mungkin diloloskan.
Semua menjadi abu-abu. Padahal olahraga dibangun dari prinsip fair play. Jika di lapangan kita menuntut wasit adil, maka di meja organisasi pun keadilan harus lebih tegas. Jangan sampai atlet diajarkan sportifitas, tetapi pengurus justru mempertontonkan inkonsistensi.
Momentum ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama.
Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memperbaiki tata kelola. KONI Provinsi perlu melakukan refleksi: apakah setiap keputusan sudah berlandaskan aturan yang sama? Apakah semua daerah diperlakukan setara?
Karena organisasi yang besar bukan yang bebas mengambil keputusan, melainkan yang disiplin pada aturannya sendiri.
Jika aturan ditegakkan secara konsisten, semua pihak akan legowo. Tetapi jika aturan dipilih-pilih, maka resistensi akan tumbuh.
Dan pada akhirnya, yang dirugikan bukan pengurus, melainkan pembinaan olahraga itu sendiri.
Salam olah raga….Jaya..!
Baca Juga: Musorprov KONI Berakhir Manis: Daud Yordan Ajak Sultan Melvin Bergabung di Kepengurusan KONI
Oleh: Mei Purwowidodo
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi
















