Opini  

Malam Minggu Tahlilan, Apakah Doa Sampai pada Almarhum?

Suasana khidmat jamaah saat membacakan zikir dan doa pada malam haul sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah wafat.
Suasana khidmat jamaah saat membacakan zikir dan doa pada malam haul sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah wafat. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Di titik ini, kita belajar hal yang jarang disadari. Islam tidak turun di ruang hampa. Ia bertemu manusia, tradisi, dan kebudayaan. Maka lahirlah Islam yang bisa menyatu dengan desa, masjid, dapur, dan tikar. Haul bukan cuma soal almarhum, tapi juga pendidikan sosial. Anak-anak belajar, kematian bukan alasan untuk lupa, tapi alasan untuk lebih banyak berbuat baik. Tetangga yang jarang sapa jadi duduk semajlis. Yang kaya berbagi, yang sederhana ikut mendoakan.

Bagi kami, haul bukan ritual mistik yang memaksa langit bekerja lembur. Ini ekspresi cinta yang rasional dengan cara iman. Tidak ada yang merasa terbebani, tidak ada yang merasa disedot. Yang ada justru rasa lapang. Kalau pun ternyata di alam sana hitung-hitungan pahala tidak seperti dugaan manusia, kami sudah untung di dunia, hubungan sosial terawat, sedekah berjalan, dan hati menjadi lebih lembut.

Maka kalau malam haul masih dipersoalkan dengan kacamata hitam-putih, mungkin yang perlu dilapangkan bukan kuburan almarhum, tapi cara berpikir kita sendiri. Islam itu bukan agama yang kering dan galak. Ia bisa tertawa, bisa hangat, bisa sangat manusiawi. Di malam haul itu, di antara doa, tahlil, dan besek, kami belajar satu hal baru, iman yang hidup selalu menemukan jalan, bahkan lewat besek.

Baca Juga: KPK Beberkan Peran Eks Menag Yaqut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji 2024

Oleh: Rosadi Jamani

(Ketua Satupena Kalbar)

 *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.