Opini  

BARAK 216

Chiki Fauzi dari diklat petugas haji di Barak 216.
Ilustrasi - Chiki Fauzi dari diklat petugas haji di Barak 216. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Namanya dicoret seperti salah ejaan. Tanpa penjelasan utuh. Tanpa ruang membela diri. Seperti manusia yang dianggap kesalahan administratif.

Dunia maya bersorak.

“Akhirnya!”
“Pantas!”
“Sudah kuduga!”

Tak ada yang bertanya, apa rasanya dilucuti niat baiknya di depan umum?
Tak ada yang peduli, berapa malam ia tidur di barak itu sambil menahan rindu dan lelah?

Karena simpati di zaman ini mahal. Lebih murah mencaci.

Chiki tidak marah. Itu yang paling menyedihkan.

Ia hanya menulis. Menjelaskan. Mengklarifikasi. Dengan nada yang terlalu sopan untuk dunia yang terlalu bising. Ia tak menyerang balik. Tak menyebut nama. Tak membuka dapur.

Ia memilih pergi dengan luka yang dilipat rapi, seperti selimut subuh itu.

Barak 216 kembali sunyi. Kasur kosong. Peluit tetap berbunyi. Sistem tetap berjalan. Dunia tetap sibuk mencari kambing hitam baru.

Kita, pembaca, akhirnya sadar. Kadang yang dicopot bukan karena salah. Tapi karena terlalu mudah disalahkan.

Di negeri ini, wak,
menjadi manusia yang berniat baik
sering kali lebih berbahaya dari menjadi orang yang benar-benar busuk.

Baca Juga: KPK Beberkan Peran Eks Menag Yaqut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji 2024

Oleh: Rosadi Jamani

(Ketua Satupena Kalbar)

 *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.