Di bawah mimbar, pesan ini terasa relevan di tengah maraknya klaim kebenaran instan, fatwa tanpa ilmu, dan agama yang direduksi menjadi alat pembenar kepentingan. Keberhasilan duniawi—popularitas, pengaruh, atau keuntungan—tidak pernah bisa menjadi legitimasi kebatilan teologis.
Masuk ke ayat 18–19, Al-Qur’an menyentil kecenderungan manusia mencari “perantara” semu: sesuatu yang diyakini bisa memberi manfaat atau mudarat selain Allah.
Padahal, pada asalnya manusia satu umat; perpecahan lahir bukan karena kebenaran yang kabur, melainkan karena hawa nafsu dan kepentingan.
Di bawah mimbar, ini terasa seperti refleksi sosial: betapa sering konflik dibungkus dalil, padahal akarnya adalah ego.
Ayat 20 kemudian menyoroti tuntutan mukjizat. Banyak orang ingin beriman jika disuguhi keajaiban sesuai pesanan. Padahal, iman sejati tidak menunggu sensasi.
Ia tumbuh dari kesediaan tunduk pada petunjuk, bahkan ketika tanda-tanda itu hadir dalam bentuk yang sunyi: ayat yang dibaca, akal yang jujur, dan hati yang bersih.
Lalu datang ayat 21 dengan pola yang sangat manusiawi: ketika diberi rahmat setelah kesulitan, sebagian manusia kembali berbuat makar terhadap ayat-ayat Allah.
Nikmat tidak otomatis melahirkan syukur; sering justru melahirkan lupa. Ini mengantar kita pada metafora paling kuat dalam bagian ini—ayat 22—tentang manusia di tengah badai laut.
Allah berfirman:
Huwalladzī yusayyirukum fil-barri wal-baḥr. Ḥattā idzā kuntum fil-fulki wa jarayna bihim birīḥin ṭayyibah wa fariḥū bihā, jā’at-hā rīḥun ‘āṣifun wa jā’ahumul-mawju min kulli makānin wa ẓannū annahum uḥīṭa bihim, da‘awullāha mukhliṣīna lahud-dīna…
Terjemahan Indonesia:
“Dialah yang menjalankan kamu di darat dan di laut. Hingga apabila kamu berada di dalam kapal, dan kapal itu berlayar dengan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai dan ombak dari segala penjuru, dan mereka menyangka bahwa mereka telah dikepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…”
Di bawah mimbar, ayat ini terasa sangat dekat. Saat badai datang—penyakit, krisis, kehilangan—doa menjadi jujur dan tauhid menjadi murni. Namun ketika laut kembali tenang, banyak yang lupa. Inilah ironi iman manusia: ikhlas di saat sempit, lalai di saat lapang.
Surah Yunus ayat 13–22, jika dibaca perlahan di bawah mimbar masjid, mengajarkan satu hal besar: kejujuran iman. Jujur belajar dari sejarah, jujur pada akal sehat, jujur memurnikan tauhid, dan jujur menjaga syukur.
Iman tidak diukur dari seberapa keras kita berdoa saat badai, tetapi seberapa konsisten kita taat ketika angin kembali bersahabat.
Di situlah Al-Qur’an bekerja—mendidik tanpa teriak, menegur tanpa mencela, dan mengajak pulang ke pusat diri: kesadaran akan Allah.
Baca Juga: Penjelasan Ahli Fisika Soal Peristiwa Isra Mikraj
(Gusti Hardiansyah)














