Opini  

Di Bawah Mimbar Masjid: Belajar Jujur kepada Iman dari Surah Yunus (13–22)

"Refleksi mendalam tentang Surah Yunus ayat 13–22. Mengulas tentang pentingnya kejujuran iman, etika intelektual, dan konsistensi tauhid dalam menghadapi badai kehidupan.
Refleksi mendalam tentang Surah Yunus ayat 13–22. Mengulas tentang pentingnya kejujuran iman, etika intelektual, dan konsistensi tauhid dalam menghadapi badai kehidupan. (Dok. Ist)

OPINI – Di bawah mimbar masjid, selepas jamaah merapatkan saf dan doa-doa penutup dilantunkan, suasana menjadi hening dengan cara yang khas.

Bukan hening yang kosong, tetapi hening yang mengajak merenung.

Pada momen seperti ini, ayat-ayat Al-Qur’an sering terasa lebih dekat—tidak sebagai teks yang jauh, melainkan sebagai cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.

Surah Yunus ayat 13–22 termasuk bagian yang bekerja seperti itu: tenang dibaca, namun mengguncang kesadaran.

Baca Juga: Refleksi Isra Mi’raj, Kapolres Kayong Utara: Menghadap Tuhan Harus Lebih Siap dari Pimpinan

Allah membuka rentetan ayat ini dengan pengingat sejarah. Banyak umat terdahulu dibinasakan bukan karena kurang bukti, melainkan karena kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran.

“Dan sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu ketika mereka berbuat zalim…” (QS. Yunus: 13).

Pesannya sederhana tetapi keras: sejarah bukan hiasan, melainkan peringatan. Kita yang datang kemudian dijadikan khalifah—pengganti—untuk diuji, apakah belajar atau justru mengulang.

Di bawah mimbar, ayat ini terasa seperti teguran personal.

Kita hidup di zaman berlimpah data dan pengetahuan.

Namun, kelimpahan itu sering melahirkan kesombongan baru: merasa cukup pintar untuk menawar kebenaran.

Inilah yang disorot ayat 15–17, ketika sebagian orang meminta agar wahyu “diubah” atau “diganti” sesuai selera.

Nabi ditegaskan tidak berhak mengutak-atik wahyu; tugasnya hanya menyampaikan.

Di sini Al-Qur’an mengajarkan etika intelektual: kebenaran tidak tunduk pada preferensi, popularitas, atau tekanan sosial.

Argumen yang digunakan pun sangat rasional.

Allah mengingatkan bahwa Nabi hidup lama di tengah kaumnya sebelum turunnya Al-Qur’an—tanpa reputasi penyair atau perancang ide besar.

“Sungguh, aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelum (Al-Qur’an) ini…” (QS. Yunus: 16).

Seolah Allah berkata: gunakan akal sehatmu. Ini bukan karya spontan manusia; ini petunjuk yang melampaui kemampuan individual.

Ayat 17 lalu mengeraskan nada peringatan: kezaliman terbesar adalah mengada-adakan kebohongan atas nama Allah.