“Dalam data percakapan media sosial, ada emosi yang harus dibaca. Ada emoticon. Di situlah kita bisa memahami perasaan publik yang sesungguhnya,” tegas pendiri DIR tersebut. Baginya, pemanfaatan data yang tepat harusnya menjadi alat untuk memperteguh peran pers di tengah krisis kepercayaan dan banjir informasi, bukan sekadar alat pengejar trafik.
Tantangan Etika dan Manipulasi Informasi
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Umum AMSI, Suwarjono, melihat transformasi teknologi telah mengubah drastis anatomi produksi hingga konsumsi konten.
Ia mengingatkan bahwa di balik kecanggihan big data, terdapat risiko besar berupa manipulasi informasi dan tantangan etika yang mengintai.
“Pendekatan bisnis media berbasis data bukan sekadar alat bertahan, melainkan prasyarat agar media tetap berpihak pada kepentingan publik di tengah tantangan etika, kepercayaan, dan risiko manipulasi informasi di era digital,” ungkap Suwarjono yang juga CEO Suara.com.
Diskusi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara CEO DIR, Adi Prasetya, dan Suwarjono.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan media akan data riset yang valid untuk diseminasi publik sekaligus peluang bisnis baru seperti media monitoring.
Meski kolaborasi ini menjanjikan efisiensi, tantangan sesungguhnya bagi media anggota AMSI adalah bagaimana menjaga independensi redaksi agar tidak didikte oleh angka-angka riset, melainkan menggunakan data tersebut untuk memperkuat kualitas jurnalisme yang berpihak pada publik.
Baca Juga: Bupati Ketapang Apresiasi Mediasi Tindak Pidana Ringan oleh Polsek Manis Mata
(Mira)
















