Tim Airlangga dan Seni Mengetuk Pintu Dinas Tanpa Proposal Tebal

"Menelusuri fenomena Tim Airlangga yang ramai dibahas di warkop Pontianak terkait dugaan penguasaan proyek konsultan dan fisik di lingkungan Pemprov Kalbar."
Menelusuri fenomena Tim Airlangga yang ramai dibahas di warkop Pontianak terkait dugaan penguasaan proyek konsultan dan fisik di lingkungan Pemprov Kalbar. (Dok. Ist)

“Dia yang jadi penghubung ke dalam,” kata Gunadi.

Di warkop, bagian ini bikin meja diketuk pelan.

Honorer, biasanya identik dengan antre gaji, tiba-tiba muncul sebagai simpul komunikasi. Seperti jalan kecil di kampung yang ternyata tembus ke jalan besar.

Nama Airlangga sendiri, menurut penuturan Gunadi dalam berita itu, bukan nama asal comot. Nama itu disebut sebagai nama jalan atau gang tempat kediaman seorang pejabat tinggi Kalbar.

Di warkop, ini langsung dikaitkan dengan efek psikologis.

Seperti menyebut “rumah besar di ujung sana”, tanpa perlu menyebut nama orangnya.

Yang dengar langsung paham.

Tim Airlangga diketahui, menurut Fakta Kalbar, berkantor di kawasan Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya.

Dari sana, koordinasi dilakukan. Sungai Raya Dalam, wilayah yang tak jauh dari pusat aktivitas pemerintahan, menjadi semacam posko.

Tidak mencolok, tapi strategis. Seperti warung kopi yang tampak biasa, tapi semua orang penting pernah duduk di situ.

Pemberitaan Fakta Kalbar juga mencatat kekhawatiran soal potensi konflik kepentingan.

Wajar. Dalam sistem pengadaan yang ideal, proyek harus berjalan transparan dan kompetitif.

Tapi di dunia nyata, terutama yang sering dibahas di warkop, yang bekerja kadang bukan cuma aturan tertulis, melainkan relasi, simbol, dan rasa sungkan.

Soal klarifikasi, Fakta Kalbar mencatat sudah berupaya meminta konfirmasi kadis dinas basah terkait dugaan aktivitas Tim Airlangga.

Terutama terkait mekanisme penunjukan langsung proyek konsultan, dan dugaan peran pegawai honorer. Hingga Rabu, 28/1/2026, belum ada tanggapan.

Di warkop, diam begini biasanya diterjemahkan macam-macam. Mulai dari “lagi sibuk” sampai “biar reda dulu”.

Cerita ini, kata Fakta Kalbar, masih akan ditelusuri.

Di luar ruang redaksi, di meja-meja warkop Pontianak, ceritanya juga terus berjalan.

Karena di kota yang punya Tugu Khatulistiwa, simbol keseimbangan dunia, orang-orang biasa hanya ingin satu hal, kekuasaan juga berdiri tegak lurus.

Tidak condong ke nama, tidak miring ke kedekatan.

Seperti biasa, di warkop, obrolan ditutup dengan kalimat klasik, “Kita tunggu aja lanjutannya, wak. Ini ceritanya belum tamat.”

Baca Juga: Cegah Kekerasan Anak, Dinsos Pontianak Sosialisasi di Sekolah

(Rosadi)