Opini  

NU Tidak Pernah Sepi Konflik, Tapi Selalu Penuh Jamaah

Ilustrasi - Menyongsong satu abad NU pada 31 Januari 2026, simak sejarah panjang Nahdlatul Ulama. Dari dinamika konflik internal PBNU hingga peran besarnya menjaga NKRI. (Dok: DMahendra/Flickr)
Ilustrasi - Menyongsong satu abad NU pada 31 Januari 2026, simak sejarah panjang Nahdlatul Ulama. Dari dinamika konflik internal PBNU hingga peran besarnya menjaga NKRI. (Dok: DMahendra/Flickr)

Di saat yang sama, KH Wahid Hasyim ikut merajut fondasi negara, berkontribusi dalam perdebatan Piagam Jakarta dan Pancasila. NU ribut, beda pendapat, tapi arah besarnya satu: Indonesia harus berdiri.

Tahun 1952, NU terjun ke politik praktis dengan memisahkan diri dari Masyumi. Pada Pemilu 1955, NU meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante dengan 18,41 persen suara nasional. Itu bukan angka kecil, itu bukti NU bukan sekadar organisasi pengajian.

Di era Demokrasi Terpimpin, NU ikut dalam skema NASAKOM Soekarno. Lalu Orde Baru datang dengan tekanan politik yang lebih rapi tapi menusuk. Tahun 1973, NU dipaksa bergabung ke PPP. Konflik internal merebak, antara yang ingin terus berpolitik dan yang ingin kembali ke akar.

Sampai akhirnya pada Muktamar Situbondo 1984, NU mengambil keputusan bersejarah, kembali ke Khittah 1926. Politik ditinggalkan sebagai kendaraan utama, dakwah dan sosial kembali jadi napas. Dari fase ini, muncul sosok Gus Dur, kritis, nyeleneh, dan sering bikin penguasa sakit kepala.

Reformasi 1998 membuka bab baru. NU tidak berpolitik sebagai organisasi, tapi melahirkan PKB. Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke-4 pada 1999. Sejarah mencatat, santri pernah memimpin republik.

Setelah itu, NU terus berjalan dengan kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, KH Ma’ruf Amin hingga Gus Yahya Cholil Staquf. Konflik internal tidak pernah absen, dari perdebatan Islam Nusantara hingga drama Syuriyah dan Tanfidziyah sepanjang 2025.

Saling pecat, surat-menyurat, adu tafsir AD/ART, sampai akhirnya islah menjelang akhir 2025. NU ribut, tapi selalu punya rem darurat bernama kiai sepuh.

Hingga 2026, NU diperkirakan memiliki sekitar 159 juta pengikut, menjadikannya organisasi Islam terbesar di dunia. Strukturnya raksasa. PBNU, wilayah, cabang, badan otonom dari Ansor sampai Muslimat, dari IPNU hingga PMII.

Di bidang pendidikan, NU mengelola 183 perguruan tinggi resmi di bawah LPTNU, terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi. Ini belum termasuk ribuan pesantren, madrasah, dan sekolah yang hidup dari gotong royong.

Baca Juga: MBG Lebih Mendesak, Lapangan Kerja Nanti Dulu Ya!

Survei LSI Denny JA 2023 mencatat 56,9 persen umat Islam Indonesia mengidentifikasi diri sebagai NU, melonjak dari 27,5 persen pada 2005. Angka itu menunjukkan NU bukan sekadar bertahan, tapi tumbuh, membesar, dan mengakar.

Besok, 31 Januari 2026, NU genap berusia satu abad Masehi dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Istora Senayan akan dipenuhi istighosah, doa, dan ingatan kolektif tentang perjalanan panjang ini.

NU bukan organisasi suci tanpa cacat. Ia penuh konflik, drama, dan perdebatan keras. Tapi justru di situlah keperkasaannya. NU hidup karena ia manusiawi. Di usia seabad ini, NU berdiri sebagai bukti, tradisi bisa modern, agama bisa ramah, dan organisasi berbasis pesantren bisa menjadi jangkar moral bangsa.

Membaca kisah NU, orang tak hanya paham sejarah, tapi juga belajar satu hal penting, bertahan seratus tahun bukan soal bebas konflik, melainkan soal selalu pulang ke niat awal. NU, sejauh ini, selalu berhasil pulang.

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.