Opini  

Di Bawah 500 Juta CCTV, Kekuasaan China Retak dari Lingkaran Elite

Ilustrasi Jenderal Zhang Youxia yang saat ini menjadi subjek investigasi utama dalam kasus dugaan korupsi dan pelanggaran disiplin di tubuh militer China. (Dok. Ist)
Jenderal Zhang Youxia yang saat ini menjadi subjek investigasi utama dalam kasus dugaan korupsi dan pelanggaran disiplin di tubuh militer China. (Dok. Ist)

Melalui Skynet Project (Tianwang) dan Sharp Eyes Project (Xueliang), negara memadukan AI, pengenalan wajah, dan big data untuk memantau warganya secara nyaris total. Berjalan tanpa tertangkap kamera di China hampir semustahil menembus Tembok Besar tanpa jejak.

Namun disinilah paradoksnya. Jutaan kamera itu dirancang untuk mengawasi rakyat biasa, bukan intrik elite. CCTV bisa merekam langkah kaki warga, tetapi tidak mampu menembus ruang rapat Komisi Militer Pusat.

Kamera bisa mengenali wajah di stasiun, tetapi tidak bisa mendeteksi pengkhianatan di puncak kekuasaan. Kasus Zhang Youxia membuktikan, ancaman terbesar bagi Xi Jinping bukan datang dari jalanan, melainkan dari lingkaran dalam.

Xi Jinping sendiri telah berkuasa lebih dari 13 tahun. Dimulai dari Sekretaris Jenderal PKC sejak 2012, Presiden sejak 2013, dan Ketua Komisi Militer Pusat selama periode yang sama.

Baca Juga: AS Serang Venezuela Demi Putus Minyak China

Setelah menghapus batas masa jabatan pada 2018, ia menjelma figur paling dominan sejak Mao Zedong. Media Barat menyebut kasus Zhang sebagai “unusual” dan “astonishing purge”, menandai bahwa loyalitas tidak lagi menjamin keselamatan.

Dari jauh, Indonesia mungkin menonton sambil merasa politik kita lebih riuh tapi kurang mematikan. Namun China memberi pelajaran dingin. Di negara dengan jutaan mata elektronik, pedang kekuasaan tetap lebih tajam dari kamera.

Ketika tangan kanan pun bisa dijatuhkan, pesan itu menggema ke seluruh negeri, tidak ada yang benar-benar aman di bawah langit merah kekuasaan.

Baca Juga: Pasca Operasi Caracas, Kapal Induk Nuklir AS Pamer Kekuatan di Laut China Selatan

Oleh: Rosadi Jamani

(Ketua Satupena Kalbar)

 *Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.