Opini  

Selamat Bekerja Dan Sukses Koni, Hati Hati Dengan Pilihan Kabinet Gemuk

Foto profil Mei Purwowidodo mengenakan topi hitam dan kacamata, penulis opini Musorkot KONI Pontianak. (Dok. Ist)
Mei Purwowidodo. (Dok: HO/Faktakalbar.id)

OPINI – Ucapan selamat patut disampaikan atas terbentuknya kepengurusan KONI Kalimantan Barat hasil Musorprov.

Harapan besar tentu menyertai kepengurusan baru ini, agar olahraga prestasi Kalbar tidak sekadar berjalan rutin, tetapi mampu melompat lebih jauh dan memberi kebanggaan melalui capaian prestasi yang nyata.

Baca Juga: Head-to-Head Senator di Kursi KONI Dimenangkan Daud Yordan dengan Selisih 7 Suara Dari Syarif Melvin

Komposisi pengurus yang ada saat ini pada dasarnya menunjukkan kekuatan. Diisi oleh figur-figur dengan latar belakang, jejaring, dan kompetensi yang beragam, KONI Kalbar memiliki modal sosial dan organisatoris yang tidak kecil.

Visi dan misi yang disampaikan Ketua Umum, Daud, dalam forum Musorprov pun tampak realistis dan terukur untuk diwujudkan.

Pengalaman Daud sebagai atlet yang tumbuh dari bawah hingga mencapai level dunia menjadi keunggulan tersendiri.

Ia tidak hanya memahami prestasi dari sisi angka dan medali, tetapi juga merasakan langsung dinamika perjuangan atlet, mulai dari proses pembinaan, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan kompetisi.

Modal empirik inilah yang seharusnya mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang relevan serta berpihak pada peningkatan kualitas atlet.

Dengan jaringan yang dimiliki Ketua Umum, akses terhadap berbagai sumber daya penunjang, baik pendanaan, fasilitas, maupun dukungan lintas institusi pada dasarnya terbuka lebar.

Jika dimanfaatkan secara optimal, hal ini dapat menjadi akselerator penting bagi kemajuan olahraga prestasi Kalbar.

Baca Juga: Buka Musorprov ke-14, Gubernur Norsan Harap Ketua KONI Kalbar Terpilih Bisa Dongkrak Prestasi

Namun demikian, di sinilah tantangan nyata mulai muncul. Struktur kepengurusan yang relatif besar lebih dari 100 personil terkesan “gemuk”.

Menyimpan potensi perlambatan gerak organisasi. Dimana idealnya antara 50 – 60 personil saja akan ramping dan lincah utk bergerak.