Sisi Gelap Bekerja di Media yang Jarang Diketahui: Work Life Balance Akan Direnggut Paksa

"Ingin kerja di media? Pikir ulang jika mendewakan work life balance. Simak realita pahit industri media, mulai dari standby 24 jam hingga libur yang hanya wacana."
Ingin kerja di media? Pikir ulang jika mendewakan work life balance. Simak realita pahit industri media, mulai dari standby 24 jam hingga libur yang hanya wacana. (Dok. Ist)

2. Teror Notifikasi di Tengah Malam

Bagi orang lain, dering telepon di tengah malam adalah tanda bahaya keluarga.

Bagi pekerja media, itu adalah panggilan tugas dari redaktur.

Kamu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak dalam mode Silent atau Do Not Disturb.

Rasa cemas takut ketinggalan informasi (Fear of Missing Out) akan menghantuimu.

Kamu akan terbiasa bangun dengan jantung berdebar hanya karena mendengar bunyi notifikasi WhatsApp Group kantor, memastikan tidak ada isu besar yang terlewat saat kamu memejamkan mata.

3. Menjadi “Raja Wacana” di Lingkaran Pertemanan

Punya rencana hangout Sabtu malam atau liburan pendek (short escape) ke pantai? Jangan terlalu berharap.

Rencanamu hanyalah draft kasar yang bisa dibatalkan semesta kapan saja.

Kamu akan sering menjadi teman yang membatalkan janji H-1 jam karena mendadak ada liputan, atau menjadi orang yang sibuk mengetik berita di pojokan kafe saat teman-teman lain sedang asyik bercanda.

Lama-kelamaan, kamu akan dicap sebagai “Si Wacana” karena jadwalmu yang tidak pernah pasti.

4. Tanggal Merah Justru Puncak Kesibukan

Lupakan libur Lebaran, Natal, atau Tahun Baru bersama keluarga besar secara utuh.

Saat orang lain libur long weekend, itulah “panen raya” berita bagi media.

Arus mudik, liputan tempat wisata, hingga pantauan malam pergantian tahun adalah tugas wajib.

Kamu mungkin akan merayakan takbiran di jalan raya atau merayakan Natal di lokasi liputan.

Konsep “libur nasional” tidak berlaku di kamus kerjamu; liburmu diganti di hari lain saat orang-orang sibuk bekerja.

5. Pulang ke Rumah Bukan Berarti “Selesai”

Di pekerjaan administratif, menutup laptop berarti pekerjaan selesai.

Di media, otakmu tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Meski fisikmu sudah di kasur, pikiranmu masih memutar angle berita untuk besok, memantau media sosial, atau memikirkan isu apa yang sedang viral.

Kamu membawa pekerjaanmu ke ruang makan, ke kamar tidur, bahkan ke kamar mandi.

Kehidupan pribadimu perlahan tergerus oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti mengalir.

Disclaimer:

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebuah self-selection atau seleksi alam.

Industri media memang bukan untuk kaum yang manja soal waktu.

Namun, bagi mereka yang memiliki passion tinggi, hilangnya work-life balance ini sering kali terbayar lunas dengan adrenalin, kepuasan membongkar fakta, dan dampak yang diberikan kepada publik.

Pertanyaannya, apakah kamu siap membayarnya?

Baca Juga: Di Balik Lensa Kamera: 5 Pemicu Guncangan Mental Jurnalis Saat Meliput Kasus Berat

(Mira)