Faktakalbar.id, SAMBAS – Warga menyoroti tajam kondisi proyek Waterfront di kawasan Keraton Sambas yang kini terbengkalai. Proyek tersebut menyisakan struktur bangunan rapuh dan justru memicu kerusakan lingkungan.
Warga mendesak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) segera mengambil tanggung jawab penuh atas masalah ini.
Material bangunan melapuk, struktur penahan tanah melemah, serta abrasi menggerus kawasan sekitar Keraton Alwatzikhoebillah. Hingga memasuki tahun anggaran 2026, Pemprov Kalbar belum memberikan kepastian terkait kelanjutan proyek ini.
Baca Juga: Bupati Satono Buka CFD Sambas 2026
Rizalfarizal, seorang warga Sambas, menganggap kondisi ini sebagai bentuk pembiaran yang sengaja.
Ia mempertanyakan sikap pemerintah yang tak kunjung memperjelas nasib proyek, apakah akan lanjut, pulih, atau membusuk begitu saja.
“Kalau tahun ini kembali tidak dianggarkan, itu artinya pemerintah provinsi sadar membiarkan kerusakan makin parah. Yang memulai dan merusak kawasan keraton itu program provinsi sendiri, dengan perencanaan yang asal-asalan,” tegas Rizalfarizal di Sambas, Senin (12/1/2026).
Rizal menilai pemerintah membangun proyek waterfront tersebut di atas fondasi kajian yang rapuh.
Ia menyebut kajian lingkungan dan cagar budaya tidak memadai, sehingga pembangunan justru merusak kawasan bersejarah milik masyarakat Melayu Sambas.
















