Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW selalu memancing rasa ingin tahu banyak pihak. Ilmuwan kerap mencoba memahami perjalanan kilat dari Makkah ke Masjidil Aqsa hingga langit ketujuh ini menggunakan logika sains.
Guru Besar Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Purwanto, menyoroti fenomena tersebut. Ia menilai Teori Relativitas Khusus (Special Relativity) karya Albert Einstein tidak sanggup menjelaskan peristiwa agung itu secara utuh.
Baca Juga: Menag Serukan Pertobatan Ekologis di Peringatan Isra Mikraj
Kelemahan Teori Einstein
Agus memaparkan alasan ketidakcocokan teori tersebut. Teori Relativitas Khusus membatasi kecepatan tertinggi di alam semesta pada angka kecepatan cahaya, yakni sekitar 300.000 kilometer per detik.
Ia mengajak masyarakat melihat logika matematikanya. Cahaya sanggup mengelilingi bumi hingga tujuh kali hanya dalam satu detik. Jika Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq dengan kecepatan cahaya selama satu malam penuh, beliau akan menempuh jarak yang sangat jauh.
Agus memperkirakan perjalanan semalam suntuk dengan kecepatan cahaya akan menembus jarak 4,3 miliar kilometer. Artinya, Nabi Muhammad SAW seharusnya sudah mencapai planet Neptunus di ujung tata surya, bukan kembali ke Makkah.
Selain masalah jarak, hukum fisika juga menyoroti aspek massa. Benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya membutuhkan energi tak terbatas.
Energi sebesar itu justru akan menghancurkan materi fisik atau tubuh manusia yang membawanya. Atas dasar inilah, Agus menganggap teori ini tidak memadai.
















