Pada mulanya, Lanfang adalah sebuah kongsi (persekutuan usaha) para penambang emas yang didatangkan dari Tiongkok (suku Hakka).
Mereka datang atas undangan sultan-sultan Melayu setempat untuk mengelola tambang emas.
Karena jumlah pekerja yang semakin banyak dan kebutuhan akan keamanan serta ketertiban, kongsi ini kemudian berkembang menjadi struktur pemerintahan yang mengatur hukum, pajak, hingga pertahanan wilayahnya sendiri secara mandiri.
4. Memiliki Hubungan Unik dengan Kesultanan Lokal
Meskipun memiliki otonomi yang kuat, Republik Lanfang tetap menjalin hubungan dengan penguasa lokal, seperti Kesultanan Mempawah dan Pontianak.
Mereka membayar upeti dan mengakui otoritas sultan sebagai pemilik tanah.
Hubungan ini bersifat simbiosis mutualisme; Lanfang mendapatkan perlindungan politis dan hak menambang, sementara kesultanan mendapatkan pemasukan ekonomi dan bantuan keamanan dari pasukan Lanfang yang dikenal tangguh.
5. Runtuh Akibat Ambisi Kolonial Belanda
Kejayaan Lanfang berakhir pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1884.
Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang ingin menguasai penuh sumber daya alam Kalimantan mulai melakukan ekspansi militer.
Setelah serangkaian pertempuran, Belanda berhasil menaklukkan wilayah kongsi-kongsi di Kalimantan Barat, termasuk Lanfang.
Setelah runtuh, banyak warga Lanfang yang melarikan diri ke luar negeri, salah satunya ke Singapura dan Semenanjung Malaya, membawa serta warisan budaya mereka.
Jejak Republik Lanfang kini masih dapat ditelusuri melalui situs makam Lo Fong Pak di Mandor.
Mengunjungi situs ini bukan hanya sekadar wisata, melainkan perjalanan menengok kembali betapa dinamisnya sejarah yang membentuk Kalimantan Barat hingga hari ini.
Baca Juga: Apa Itu Bibliophile? Cek Ciri-ciri Penggila Buku di Sini
(Mira)
















