Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Rusia kembali memanaskan situasi perang dengan meluncurkan rudal hipersonik jarak menengah, Oreshnik, ke wilayah Ukraina barat.
Serangan ini mendarat hanya beberapa kilometer dari perbatasan Polandia, yang notabene merupakan pintu gerbang wilayah North Atlantic Treaty Organization (NATO).
Langkah agresif Moskow pada Sabtu (10/1/2026) ini langsung memicu reaksi keras dari para pemimpin Eropa.
Mereka menilai serangan tersebut bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan intimidasi terbuka terhadap negara-negara Barat yang selama ini mendukung Kyiv.
Otoritas Ukraina mengidentifikasi senjata tersebut sebagai Oreshnik, sebuah rudal balistik canggih yang Kremlin klaim mustahil dicegat
. Meskipun rudal ini memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir, pejabat Ukraina menyebut bahwa dalam serangan kali ini, Rusia kemungkinan menggunakan hulu ledak kosong (dummy) atau inert.
Namun, pesan yang Moskow kirimkan sangat jelas: mereka sanggup menjangkau wilayah NATO kapan saja.
Bantahan Soal Alasan Serangan
Moskow mengklaim bahwa peluncuran ini merupakan balasan atas serangan drone Ukraina ke kediaman Presiden Vladimir Putin pada akhir Desember lalu.
Namun, pihak Ukraina dan Amerika Serikat dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, menyebut alasan Rusia itu tidak masuk akal.
“Putin menggunakan rudal balistik jarak menengah di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai respons atas halusinasinya sendiri, ini benar-benar ancaman global dan ini menuntut respons global,” tulis Sybiha dalam pernyataannya.
Peringatan Zelensky untuk Eropa
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, langsung memperingatkan negara-negara tetangga bahwa ancaman ini tidak hanya tertuju pada negaranya.
Ia menegaskan bahwa ibu kota negara-negara Eropa lainnya kini berada dalam jangkauan ancaman yang sama.
















