Hal ini dilakukan karena struktur kayu jembatan tidak mampu menampung beban kendaraan secara bersamaan dari dua arah.
Unit Patroli Satlantas di lapangan melaporkan tiga kendala teknis utama yang dihadapi pengguna jalan di lokasi tersebut:
- Permukaan Licin: Tanah merah di area oprit (jalan pendekat) jembatan sangat licin saat basah, meningkatkan risiko kendaraan tergelincir ke sisi jalan.
- Struktur Tidak Stabil: Lantai jembatan yang tersusun dari kayu mulai mengalami pelapukan, sehingga berpotensi patah jika dilintasi muatan berlebih.
- Risiko Kerusakan Kendaraan: Permukaan lintasan yang tidak rata menyebabkan kendaraan, khususnya jenis sedan atau minibus (mpv), rawan mengalami benturan pada bagian bawah (ground clearance).
“Petugas memberikan instruksi kepada pengemudi agar posisi ban tepat berada di atas tumpuan kayu untuk menghindari risiko terperosok,” ujar perwakilan Unit Patroli saat memberikan keterangan teknis penanganan di lokasi.
Akibat kerusakan ini, terjadi perlambatan arus lalu lintas dan antrean kendaraan.
Warga setempat dan pengguna jalan berharap adanya perbaikan permanen segera dilakukan untuk menormalisasi akses ekonomi dan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut.
Baca Juga: Tinggalkan Hura-Hura, Pemkab Kayong Utara Sambut Tahun Baru 2026 dengan Istighosah
(*Mira)
















